SMPN 2 Ampelgading Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Guru, Hadirkan Dua Narasumber Inspiratif

Table of Contents
Jatimku-Malang, 6 November 2026, Ampelgading. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia pendidik, SMPN 2 Ampelgading Kabupaten Malang menggelar workshop pengembangan kompetensi guru dengan menghadirkan dua narasumber inspiratif, yakni Sapto Pitoyo (Praktisi Pendidikan) dan M. Fandi Bakhtiar (Kepala YDSF Cabang Malang sekaligus Spiritual Leadership Trainer)

Workshop ini menjadi ruang belajar sekaligus refleksi bagi para guru untuk memperkaya perspektif, mengembangkan pendekatan pembelajaran, serta memperkuat ketangguhan diri dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang semakin kompleks dan penuh tantangan.

Pada sesi pertama, Sapto Pitoyo mengangkat materi tentang delapan kecerdasan anak yang perlu dikenali dan dipahami oleh setiap guru. Melalui materi ini, para peserta diajak memahami bahwa setiap anak memiliki karakteristik, kecenderungan, dan potensi kecerdasan yang beragam. Tidak semua siswa memiliki kemampuan dan cara belajar yang sama.
Guru diharapkan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga mampu melihat keunikan setiap peserta didik. Dengan memahami ragam kecerdasan anak, guru dapat melakukan pemetaan potensi, menentukan pendekatan pembelajaran yang lebih tepat, serta menghadirkan stimulus yang mampu memantik kemampuan terbaik setiap siswa.

Pesan penting dari sesi ini adalah bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang. Tugas guru bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan menemukan, menumbuhkan, dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki setiap peserta didik.

Memasuki sesi kedua, M. Fandi Bakhtiar, Kepala YDSF Cabang Malang sekaligus Spiritual Leadership Trainer, memberikan pembekalan bertajuk "3 Jurus Guru Tangguh di Era Penuh Tantangan."

Materi ini mengajak para guru untuk memperkuat fondasi spiritual, meningkatkan kapasitas diri, serta membangun karakter pendidik yang mampu menghadirkan lingkungan belajar yang positif dan inspiratif.
Dalam pemaparannya, Fandi menekankan tiga jurus utama yang perlu dimiliki oleh setiap guru tangguh.

Pertama, Guru Bertakwa. Guru tidak hanya dituntut memiliki kecerdasan intelektual dan kompetensi profesional, tetapi juga harus memiliki fondasi ketakwaan yang kuat. Nilai-nilai keimanan menjadi kompas dalam menjalankan amanah pendidikan. Guru yang bertakwa akan menyadari bahwa mendidik bukan sekadar profesi, melainkan ibadah dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Dari ketakwaan lahir integritas, keikhlasan, keteladanan, dan tanggung jawab dalam mendidik generasi.

Kedua, Guru Pembelajar. Perubahan zaman menuntut guru untuk tidak pernah berhenti bertumbuh. Guru harus terbuka terhadap pengetahuan baru, adaptif terhadap perkembangan teknologi, kreatif dalam metode pembelajaran, serta senantiasa melakukan evaluasi dan perbaikan diri. Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa paling tahu, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar dan memperbaiki kualitas dirinya.

Ketiga, Guru Pengayom. Guru harus mampu menjadi sosok yang memberikan rasa aman, perlindungan, perhatian, dan bimbingan bagi peserta didik. Guru pengayom tidak hanya hadir ketika siswa berprestasi, tetapi juga tetap mendampingi ketika mereka mengalami kesulitan. Bukan mudah menghakimi, melainkan bijak memahami; bukan sekadar memberikan hukuman, melainkan menghadirkan arahan dan solusi. Dengan demikian, sekolah menjadi ruang yang nyaman bagi setiap anak untuk tumbuh, belajar, dan menemukan potensi terbaiknya.
Melalui ketiga jurus tersebut, para guru diajak memahami bahwa ketangguhan seorang pendidik harus dibangun dari tiga fondasi yang saling menguatkan: kuat imannya, terus bertumbuh ilmunya, dan luas kepeduliannya.

Sebab, guru tangguh bukan hanya guru yang mampu mengajar di tengah tantangan, tetapi guru yang mampu menjaga nilai, mengembangkan diri, dan menjadi tempat bertumbuh bagi generasi masa depan.

Kepala SMPN 2 Ampelgading, Ibu Musarofah, menyampaikan bahwa kegiatan workshop ini diharapkan mampu menambah kapasitas dan wawasan para guru dalam memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada seluruh siswa.

Beliau juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah berkenan berbagi ilmu, pengalaman, serta inspirasi dalam kegiatan workshop tersebut. Harapannya, berbagai pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai materi dalam ruang pelatihan, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dalam aktivitas pembelajaran dan pelayanan kepada peserta didik.
Workshop ini menjadi pengingat bahwa pendidikan yang berkualitas lahir dari guru yang terus belajar, mampu memahami keunikan anak, dan memiliki ketangguhan dalam menjalankan amanahnya.

Sebab, sekolah hebat tidak hanya dibangun oleh kurikulum yang baik, tetapi juga oleh guru-guru yang hebat dalam mengenali potensi, menguatkan karakter, dan menyalakan masa depan setiap anak. (AW)

#Guru bertumbuh, siswa berdaya, sekolah semakin berjaya.