Melalui DOKAR 2026, UB Perluas Kerja Sama Riset dengan Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences (CATAS)
Table of Contents
Jatimku, Malang - Jejaring kerja sama internasional UB terus meningkat melalui kegiatan akademik dan pengembangan kolaborasi penelitian dengan sejumlah institusi di China. Melalui Program DOKAR UB 2026, delegasi Universitas Brawijaya melakukan kunjungan ke Spice and Beverage Research Institute, Chinese Academy of Tropical Agricultural Sciences (CATAS), di Hainan, China, pada Oktober 2026.
Kegiatan DOKAR tersebut diketuai oleh Dr. Suhartini, S.P., M.P., dan beranggotakan Mahfudlotul Ula, S.E., M.Si. dan Prof. Dr. Agr. Sc. Hagus Tarno, S.P., M.P. Kunjungan ini merupakan tindak lanjut kerja sama penelitian antara UB dan CATAS yang telah berlangsung sejak tahun 2019. Kerja sama yang sebelumnya berfokus pada bidang proteksi tanaman kini diarahkan untuk berkembang menjadi kolaborasi multidisiplin, mencakup pengembangan pertanian tropis, inovasi teknologi, ketahanan terhadap perubahan iklim, serta hilirisasi hasil penelitian.
Memperluas Kerja Sama Penelitian dan Membangun Konsorsium Internasional
Dalam pertemuan dengan para peneliti CATAS, Prof. Hagus Tarno menyampaikan presentasi berjudul “Building a China–Indonesia–Timor-Leste Research Consortium for Coffee Health, Climate Resilience, and Sustainable Development.”
Presentasi tersebut mengangkat gagasan pengembangan konsorsium penelitian internasional yang mengintegrasikan keunggulan ilmiah dan fasilitas penelitian di China dan Indonesia, serta potensi pengembangan pertanian berkelanjutan di Timor-Leste.
Beberapa bidang yang menjadi perhatian mencakup pengelolaan hama dan penyakit tanaman, biosekuriti pertanian, adaptasi perubahan iklim, agroforestri, teknologi produksi dan pascapanen, serta peningkatan kualitas komoditas pertanian tropis, khususnya kopi.
"Komoditas kopi kami angkat karena iklim tropisnya mendukung dan pasar global kopi yang meningkat," kata Prof Hagus Tarno.
Penguatan aspek agroforestri, biosekuriti, dan perlindungan tanaman juga mendukung SDG 15 (Ekosistem Daratan), khususnya melalui pengelolaan sumber daya hayati dan ekosistem pertanian secara berkelanjutan.
Pengembangan kerja sama dengan Spice and Beverage Research Institute juga membuka peluang penelitian lebih luas pada komoditas rempah dan tanaman minuman, termasuk pengembangan mutu, nilai tambah, dan inovasi produk pertanian.
Mendorong Pertukaran Dosen dan Mahasiswa serta Pemanfaatan Fasilitas Riset
Selain pengembangan riset bersama, pertemuan tersebut membahas peluang pertukaran dosen dan mahasiswa (academic exchange), kunjungan peneliti, pelatihan laboratorium, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui kegiatan akademik bersama. Pertukaran pengetahuan dan peningkatan kapasitas tersebut berkontribusi pada SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), terutama dalam memperluas akses pembelajaran, pelatihan, dan pengalaman akademik internasional.
Optimalisasi fasilitas penelitian di masing-masing institusi menjadi perhatian penting. Penggunaan bersama fasilitas laboratorium, keahlian peneliti, serta sumber daya penelitian diharapkan mampu meningkatkan kualitas penelitian, mempercepat publikasi ilmiah internasional, dan menghasilkan inovasi yang berpotensi untuk dihilirisasi.
Melalui kolaborasi tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak hanya memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat diterapkan dalam pengembangan teknologi, peningkatan produktivitas pertanian, serta pemberdayaan masyarakat dan industri.
Menjajaki Pendanaan Riset dari Institusi, Pemerintah, dan Lembaga Internasional
Salah satu agenda strategis dalam pertemuan ini adalah pembahasan peluang pengembangan pembiayaan penelitian kolaboratif melalui berbagai skema pendanaan.
Kerja sama penelitian dapat dikembangkan melalui dukungan pendanaan internal masing-masing institusi, program penelitian pemerintah Indonesia dan China, maupun pendanaan internasional yang mendukung pengembangan pertanian, adaptasi perubahan iklim, biosekuriti, serta pembangunan berkelanjutan.
Pengembangan proposal bersama melalui konsorsium internasional diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan kolaborasi riset serta meningkatkan daya saing institusi mitra dalam memperoleh pendanaan penelitian internasional. Inisiatif tersebut mencerminkan kontribusi terhadap SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), melalui penguatan kemitraan global dan mobilisasi sumber daya untuk mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.
Melanjutkan Kolaborasi dengan Jiangxi Agricultural University di Nanchang
Setelah kegiatan di CATAS, anggota delegasi DOKAR 2026, Prof. Hagus Tarno melanjutkan agenda akademik ke Jiangxi Agricultural University (JXAU) di Nanchang, Provinsi Jiangxi, China.
Kunjungan ini menjadi bagian dari penguatan kerja sama penelitian yang telah dilaksanakan antara UB dan JXAU, khususnya dalam bidang hama dan penyakit tanaman.
Kegiatan tersebut juga berkaitan dengan Program Belt and Road Foreign Talent 2026–2027, sebagai salah satu sarana pengembangan kolaborasi keilmuan dan penguatan jejaring penelitian internasional.
Melalui kemitraan tersebut, kedua institusi berupaya memperkuat penelitian bersama, pengembangan kapasitas peneliti, pertukaran pengetahuan dan teknologi, serta publikasi ilmiah internasional di bidang perlindungan tanaman dan pertanian berkelanjutan.
Kunjungan ke JXAU sekaligus memperluas jejaring mitra strategis UB di China, sehingga peluang pengembangan penelitian dapat berkembang melalui kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian.
DOKAR 2026 sebagai Penggerak Internasionalisasi UB
Kegiatan DOKAR UB 2026 yang diketuai Dr. Suhartini, S.P., M.P., menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama internasional yang berorientasi pada keberlanjutan kegiatan akademik dan penelitian.
Rangkaian kunjungan ke CATAS dan penguatan hubungan dengan JXAU diharapkan dapat menghasilkan tindak lanjut yang konkret, baik dalam bentuk penyusunan proposal riset kolaboratif, peningkatan mobilitas akademik, publikasi bersama, maupun pemanfaatan fasilitas penelitian antarinstitusi.
"Tentu kami akang mendorong dang mengawal ini hingga tindak lanjut agar dapat memberikan dampak nyata bagi keilmuan," ujar Dr. Suhartini.
Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya membangun kolaborasi internasional yang berorientasi pada hasil dan dampak, tidak hanya melalui penguatan hubungan kelembagaan, tetapi juga melalui implementasi penelitian bersama dan pengembangan inovasi.
Program DOKAR UB 2026 diharapkan semakin mampu memperkuat reputasi akademik internasional UB, memperluas akses terhadap sumber daya dan pendanaan riset global, serta meningkatkan kontribusi nyata hasil penelitian bagi pengembangan pertanian berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat.(sid/aw)