Wagub Emil Dorong Anak Muda Berwirausaha, Pemprov Jatim Siapkan Kemudahan Regulasi

Table of Contents


SURABAYA, JATIMKU.COM – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mendorong generasi muda untuk terjun ke dunia usaha dan menciptakan lapangan kerja. Untuk mendukung langkah tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur berupaya mempermudah regulasi agar inovasi pelaku usaha muda tidak terhambat birokrasi.

Menurut Emil, membangun wirausaha muda tidak cukup hanya melalui motivasi. Generasi muda juga membutuhkan ekosistem pendukung, pendampingan, akses permodalan, serta ruang untuk menguji ide bisnis sebelum dipasarkan secara luas.

Hal itu disampaikan Emil setelah mengisi special roadshow Diplomat Success Challenge (DSC) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jumat (9/10/2026).

Pemprov Jatim Dorong Ruang Uji Coba Bisnis

Emil menjelaskan, anak muda yang memiliki ide bisnis perlu melalui proses untuk mematangkan gagasannya. Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam program DSC adalah konsep 3P, yakni pahami, piawai, dan pesona.

Menurutnya, fokus pengembangan kewirausahaan seharusnya tidak hanya pada satu jenis usaha, tetapi juga pada kemampuan seseorang untuk terus beradaptasi dan membangun bisnis.

"Jadi sebenarnya kita akan ketemu banyak pengusaha yang dalam perjalanan hidupnya berusaha tuh gak satu bisnisnya itu sama dari awal sampai akhir. Yang harus kita cetak tuh entrepreneur-nya atau wirausahanya. Nah, ini yang dicoba dibangun di DSC (Diplomat Success Challenge)," kata Emil.

Ia mengapresiasi konsistensi DSC selama 17 tahun dalam mendampingi pengusaha muda.

Emil juga menyoroti pentingnya konsep sandbox kewirausahaan, yakni ruang uji coba bagi pelaku usaha pemula untuk mengukur kelayakan produk, menguji respons konsumen, menentukan harga, hingga mengenali pesaing sebelum memasuki pasar yang lebih luas.

"Jangan sampai kemampuan mereka berinovasi itu terkungkung oleh ruwetnya regulasi. Nah, di sini fungsi memang pemerintah itu, juga kita hadir harusnya membuat hal-hal ini jadi lebih mudah," jelasnya.

Gagasan tersebut akan ditindaklanjuti Pemprov Jatim melalui komunikasi lanjutan dengan pihak DSC dan ITS. Pemprov Jatim juga berencana menjalin komunikasi dengan Kementerian UMKM untuk membahas peluang pengembangan ruang uji coba bisnis tersebut.

DSC Bangun Ekosistem Wirausaha Muda

Ketua Dewan Komisioner DSC, Surjanto Yasaputera, mengatakan program DSC tidak hanya memberikan hibah modal usaha. Program tersebut juga berupaya membangun ekosistem kewirausahaan melalui edukasi, pendampingan, dan akses jejaring Diplomat Entrepreneur Network (DEN).

Menurut Surjanto, terdapat tiga unsur penting dalam membangun pola pikir kewirausahaan, yakni kemauan personal, pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill).

Pengetahuan dapat diperoleh dari berbagai sumber, sedangkan keterampilan perlu diasah melalui latihan dan pengalaman langsung.

"Kedua unsur tersebut tidak akan optimal tanpa kemauan untuk memulai dan bertahan menghadapi tantangan. Kalau kita enggak ada kemauan, ya tentu sulit. Kemudian skill, biasanya ini harus dilalui dengan latihan. Jadi, kalau sudah mau melakukan sesuatu, kemudian dilatih skill-nya, knowledge-nya didapatkan dari sumber mana pun, pola pikir wirausahawan itu sudah terbentuk," urainya.

ITS Tanamkan Jiwa Wirausaha kepada Mahasiswa

Dukungan terhadap pengembangan wirausaha muda juga menjadi bagian dari strategi ITS. Wakil Rektor III ITS, Imam Baihaqi, mengatakan kampus tersebut tengah bertransformasi dari Research University menuju Entrepreneurial University.

"Kita bukan hanya menciptakan entrepreneur-entrepreneur, tetapi kita menciptakan lulusan yang berjiwa entrepreneur," kata Imam.

Ia menjelaskan, ITS telah mengembangkan sejumlah fasilitas untuk mendukung kewirausahaan, termasuk pusat pengembangan karier dan kewirausahaan serta Science Technopark.

Kampus juga menanamkan pola pikir kewirausahaan sejak mahasiswa baru melalui mata kuliah wajib technopreneurship.

Menurut Imam, mahasiswa perlu dibiasakan melihat persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk menciptakan produk atau jasa yang bermanfaat. Inovasi tidak harus selalu berupa teknologi rumit karena solusi sederhana pun berpotensi memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan menciptakan dampak sosial.

"Cara untuk memulai usaha itu adalah carilah masalah di sekitar kita, selesaikan masalah itu dengan solusi-solusi bisnis," pungkasnya.

Melalui kolaborasi pemerintah, lembaga pendamping kewirausahaan, dan perguruan tinggi, pengembangan wirausaha muda diharapkan semakin terbuka. Kemudahan regulasi dan tersedianya ruang untuk menguji ide bisnis menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya pelaku usaha baru di Jawa Timur.

Dilansir dari detikJatim.