Sebelum Dibunuh Suami Siri, Dini Hardiyanti Disebut Takut Kembali ke Madiun

Table of Contents

 



SURABAYA, JATIMKU.COM – Dini Hardiyanti (30), korban dugaan pembunuhan oleh suami sirinya, Dwi Bagus Martono (40), disebut pernah merasa takut untuk kembali ke Madiun. Hal tersebut diungkapkan pengacara keluarga korban berdasarkan penelusuran komunikasi Dini dengan temannya melalui pesan langsung atau direct message (DM) Instagram.

Meski demikian, hubungan antara pesan tersebut dan peristiwa pembunuhan Dini beserta anaknya, Arshaka Ghafa El Faezya (4), belum dapat dipastikan.

Dilansir dari detikJatim, pengacara keluarga korban, Ikbal Sermaf, mengatakan pesan yang ditelusurinya mengindikasikan adanya ketakutan yang dirasakan Dini. Namun, ia belum bisa memastikan apakah pesan tersebut berkaitan langsung dengan ancaman yang berujung pada dugaan pembunuhan.

"Jadi ketakutan itu ada mungkin bahasa-bahasa yang mungkin menjadi ketakutan bagi korban itu sendiri, mungkin yang didatangkan lewat send-message sehingga korban ini berpikir bahwa ada ancaman sehingga ada ketakutan-ketakutan," jelas Ikbal di Mapolda Jatim, Selasa (27/10/2026).

Pesan Instagram Mengindikasikan Dini Takut Kembali ke Madiun

Ikbal mengungkapkan, temuan tersebut berasal dari penelusuran komunikasi Dini dengan salah seorang temannya. Pesan itu menunjukkan bahwa Dini diduga tidak ingin kembali ke Madiun karena merasa takut.

Meski begitu, pihak keluarga melalui kuasa hukumnya belum dapat memastikan sumber ketakutan tersebut maupun kaitannya dengan dugaan pembunuhan yang menimpa Dini dan anaknya.

Ikbal menilai masih diperlukan pendalaman untuk mengetahui latar belakang ketakutan korban serta kemungkinan hubungannya dengan rangkaian peristiwa yang sedang diselidiki polisi.

Dini dan Dwi Bagus Menjalin Hubungan Selama Tiga Tahun

Dini diketahui telah menjalin hubungan dengan Dwi Bagus selama sekitar tiga tahun. Keduanya disebut menikah secara siri di Samarinda sebelum Dwi Bagus mengajak Dini pindah ke Jawa Timur.

Pasangan tersebut kemudian tinggal di wilayah Ponorogo selama sekitar empat bulan.

Menurut Ikbal, keluarga mengetahui hubungan Dini dengan Dwi Bagus. Dini juga disebut mengetahui bahwa Dwi Bagus masih memiliki istri sah.

Meski demikian, Dini berharap pernikahan siri mereka dapat disahkan secara hukum negara.

"Keinginannya seperti itu, untuk bagaimana dari pernikahan siri ini mereka bisa juga melakukan pernikahan secara sah secara negara," kata Ikbal.

Berdasarkan keterangan keluarga, hubungan keduanya sempat terlihat berjalan seperti pasangan pada umumnya. Keluarga mengaku tidak mengetahui adanya pertengkaran besar maupun dugaan kekerasan dalam rumah tangga selama hubungan tersebut.

"Kalau kita melihat pada dasar indikator bahwa kita mengklasifikasi sebenarnya aman-aman saja sebenarnya, ya kan. Sebenarnya masih aman saja, berjalan dengan baik," tuturnya.

Namun, Ikbal menilai kecemburuan saja belum cukup untuk menjelaskan rangkaian dugaan pembunuhan terhadap Dini dan anaknya.

"Kalau motivasi dia melakukan ini kan saya harus bisa melihat pada dasarnya memang kalau dasar cocok-cocok itu kan dasar yang umum, tapi kan kami belum menemukan terkait dengan orkestrasi sampai terjadi hal-hal pembunuhan yang cukup sadis dan kejam seperti ini," pungkasnya.

Dini dan Anaknya Dilaporkan Hilang Sejak September 2026

Sebelumnya, Dini dan anaknya dilaporkan hilang sejak 20 September 2026. Keluarga mulai mencurigai sejumlah kejanggalan, termasuk keterangan Dwi Bagus yang disebut berubah-ubah mengenai lokasi pertengkaran mereka.

Keluarga juga menerima pesan yang mengatasnamakan Dini dan menyebut bahwa korban pergi ke Medan. Namun, keluarga mencurigai pesan tersebut tidak dikirim langsung oleh Dini.

Pada 5 Oktober 2026, keluarga akhirnya melaporkan hilangnya Dini dan anaknya ke Polres Madiun Kota.

Polisi kemudian melakukan penyelidikan hingga mengarah kepada Dwi Bagus. Tersangka ditangkap di rumah temannya di Kecamatan Gudo, Kabupaten Jombang, pada Minggu (25/10/2026) malam.

Polisi Ungkap Dugaan Pembunuhan Ibu dan Anak

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, Kombes Roy H M Sihombing, sebelumnya mengungkapkan bahwa Dwi Bagus diduga membunuh Dini di sebuah kamar hotel di Madiun, kemudian membunuh anak korban.

Tersangka juga diduga berupaya menghilangkan jejak dengan membakar jasad kedua korban, memasukkannya ke mesin penggiling daging, lalu membakarnya kembali.

Polisi masih mendalami rangkaian peristiwa tersebut, termasuk motif dan tindakan yang diduga dilakukan tersangka setelah kedua korban meninggal dunia.

Sementara itu, informasi mengenai ketakutan Dini untuk kembali ke Madiun menjadi salah satu hal yang disampaikan pihak keluarga melalui kuasa hukumnya. Kaitan pesan Instagram tersebut dengan dugaan pembunuhan masih belum dapat dipastikan.

Dilansir dari detikJatim.