Rupiah Melemah hingga Rp18 Ribu per Dolar AS, Harga Bahan Pokok di Pasar Jatim Naik
SURABAYA, JATIMKU.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di kisaran Rp18.046 per dolar AS menjadi sorotan setelah sejumlah pedagang pasar tradisional di Jawa Timur melaporkan kenaikan harga bahan pokok. Komoditas seperti tepung terigu, tepung kanji, gula, hingga bahan baku mi mengalami kenaikan harga.
Dilansir dari detikJatim, kenaikan tersebut terpantau di Pasar Sepanjang, Sidoarjo, dan Pasar Keputran, Surabaya, pada Selasa (20/10/2026). Meski sebagian pedagang mengaitkan kenaikan dengan pelemahan rupiah, pedagang lain menyebut faktor ketersediaan stok turut memengaruhi harga.
Harga Tepung Terigu Naik dalam Dua Pekan
Pedagang di Pasar Sepanjang, Ana (44), mengatakan kenaikan harga terjadi pada sejumlah kebutuhan pokok, termasuk tepung terigu, tepung kanji, dan gula.
“Ya semuanya naik kalau bahan pokok. Dari tepung terigu, kanji, gula, semuanya naik harganya,” kata Ana, Selasa (20/10/2026).
Menurut Ana, harga tepung terigu mengalami kenaikan cukup cepat dalam dua pekan terakhir. Tepung terigu biasa atau nonpremium kini dijual sekitar Rp213.000 hingga Rp215.000 per sak berisi 25 kilogram. Sebelumnya, harga komoditas tersebut masih di bawah Rp200.000 per sak.
“Kalau dua minggu ini kenaikannya cepat. Dulu harga tepung itu di bawah Rp200 ribu,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga tepung kanji sudah mengalami kenaikan sejak sekitar dua bulan lalu. Kenaikan harga tepung terigu juga berdampak pada biaya produksi mi karena bahan tersebut menjadi salah satu bahan baku utamanya.
Harga Bahan Baku Mi Ikut Terdampak
Pedagang mi basah dan kulit pangsit di Pasar Keputran, Ahmad Suwaidi (35), membenarkan adanya kenaikan harga bahan baku. Ia menyebut harga tepung mengalami kenaikan sekitar Rp5.000 per bal.
“Karena rupiah melemah, jadi bahan pokok semua ikut naik. Bahan baku mi dari tepung, tepungnya naik, itu yang menyebabkan kenaikan saat ini,” kata Ahmad.
Selain pelemahan rupiah, Ahmad menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan cuaca ekstrem turut memengaruhi harga sejumlah komoditas di pasar.
“Makanya itu, semua ikut naik termasuk cabai, sayur, bawang merah dan bawang putih ikut naik juga,” ungkapnya.
Kenaikan harga bahan baku berpotensi menambah beban pedagang yang mengandalkan tepung untuk memproduksi makanan sehari-hari. Dampaknya terhadap harga jual kepada konsumen dapat berbeda-beda, bergantung pada biaya produksi dan kondisi masing-masing pedagang.
Harga Bawang Bombai Naik karena Stok Terbatas
Sementara itu, pedagang bawang bombai dan jamur impor, Putra Gendro Bhakti (35), memiliki pandangan berbeda mengenai penyebab kenaikan harga komoditas yang dijualnya.
Menurut Putra, kenaikan harga bawang bombai lebih dipengaruhi keterbatasan stok. Ia menyebut sebagian barang masih berada di Bea Cukai untuk proses karantina dan perizinan impor.
“Kalau pengaruh dolar sih enggak ada, kemarin saya dapat info itu karena barang masih di Bea Cukai untuk karantina perizinan impor,” ujar Putra.
Ia menyebut harga bawang bombai naik dari Rp300.000 menjadi Rp340.000 per sak dengan berat 20 kilogram.
Perbedaan keterangan para pedagang tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga di pasar tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Selain nilai tukar, ketersediaan barang dan proses distribusi juga dapat memengaruhi harga jual komoditas tertentu.
Pedagang Berharap Harga Segera Stabil
Para pedagang pasar tradisional berharap kenaikan harga bahan pokok tidak berlangsung berkepanjangan. Mereka khawatir harga akan semakin tinggi menjelang akhir tahun apabila kondisi pasar belum kembali stabil.
Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan bagi pedagang maupun konsumen karena dapat meningkatkan pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari.
Meski sejumlah pedagang mengaitkan kenaikan harga dengan pelemahan rupiah, faktor penyebab setiap komoditas perlu dilihat secara terpisah. Kondisi stok, distribusi, biaya produksi, serta faktor cuaca juga menjadi hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan harga di pasar tradisional.
Dilansir dari detikJatim.
