Empat Tahun Tragedi Kanjuruhan, Keluarga Korban Terus Merawat Ingatan dan Menagih Keadilan
MALANG, JATIMKU.COM – Peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2026 berlangsung khidmat dan penuh haru. Ratusan keluarga serta kerabat korban berkumpul di Museum Gate 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, untuk mendoakan 135 korban meninggal dunia sekaligus kembali menyuarakan tuntutan keadilan.
Gate 13 menjadi salah satu lokasi yang menyimpan kenangan kelam tragedi yang terjadi setelah pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022. Kini, tempat tersebut dijadikan museum untuk merawat ingatan atas peristiwa yang menelan banyak korban jiwa itu.
Keluarga korban terlihat memanjatkan doa, menaburkan bunga, dan meletakkan karangan bunga di area Gate 13. Suasana semakin emosional ketika sejumlah keluarga mengenang anggota keluarga mereka yang meninggal dunia.
Di ruangan sebelah museum, kegiatan khataman Al-Qur’an turut digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan tahunan. Acara kemudian ditutup dengan pengajian dan munajat akbar bertajuk Doa untuk Nawak-Nawak yang digagas keluarga korban, Organisasi Aremania Utas, dan manajemen Arema FC.
Keluarga Korban Masih Menuntut Keadilan
Di tengah kegiatan doa bersama, keluarga korban kembali menyampaikan harapan agar proses hukum Tragedi Kanjuruhan diusut secara menyeluruh.
Minsai In, ayah almarhum Rio Edit Setyawan (21), menilai proses hukum yang telah berjalan belum menyentuh seluruh pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ia berharap laporan yang telah disampaikan ke Polres Malang hingga Bareskrim Polri dapat ditindaklanjuti.
Minsai juga meminta agar seluruh pihak yang terlibat, termasuk personel yang menembakkan gas air mata dan pihak yang memberikan perintah, diperiksa sesuai ketentuan hukum.
Senada, Sekretaris Yayasan Korban Tragedi Kanjuruhan (YKTK), Kholifah Nur, menyatakan keluarga korban masih belum merasakan keadilan sepenuhnya. Ia berharap tragedi tersebut terus dikenang dan menjadi pelajaran agar peristiwa serupa tidak terulang.
Kholifah juga mengusulkan agar 1 Oktober dijadikan hari tanpa pertandingan sepak bola sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Aksi Solidaritas dan Doa Bersama
Peringatan empat tahun Tragedi Kanjuruhan juga diwarnai aksi mahasiswa, Aremania, dan masyarakat di depan Balai Kota Malang. Massa menggelar aksi diam selama hampir satu menit serta membawa poster bertuliskan “Don't Stop Talking About Kanjuruhan”.
Selain itu, Komunitas Aremania Curvasud mengadakan doa bersama dan santunan anak yatim piatu di depan Basecamp Curvasud, Jalan Patimura, Kota Malang. Kegiatan tersebut diisi dengan sholawatan, pembacaan Yasin dan tahlil, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sejumlah unsur pemerintah, TNI-Polri, tokoh masyarakat, komunitas Aremania, dan warga turut hadir, termasuk Wali Kota Malang Wahyu Hidayat.
Peringatan ini menjadi momentum bagi keluarga korban dan masyarakat untuk terus mengenang 135 korban Tragedi Kanjuruhan, sekaligus mengingatkan pentingnya pengusutan perkara dan upaya mencegah tragedi serupa terulang.
Dilansir dari detikJatim.
