Psikolog Ingatkan Peran Orang Terdekat dalam Mencegah Bunuh Diri

Table of Contents


 


SURABAYA, JATIMKU.COM – Upaya mencegah bunuh diri tidak hanya menjadi tanggung jawab psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan. Keluarga, teman, guru, dosen, rekan kerja hingga tetangga juga memiliki peran penting dalam mengenali tanda-tanda krisis dan memberikan dukungan sejak dini.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Marini, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengatakan, seseorang yang mengalami tekanan psikologis berat tidak selalu menyampaikan secara langsung bahwa dirinya membutuhkan pertolongan.

“Sering kali orang yang sedang mengalami tekanan psikologis berat tidak mengatakan secara langsung bahwa dirinya membutuhkan pertolongan,” kata Marini saat dihubungi detikJatim, Selasa (15/9/2026).

Perubahan Perilaku Perlu Diperhatikan

Menurut Marini, orang-orang terdekat perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku yang mencolok dan berlangsung terus-menerus.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain seseorang semakin menarik diri, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, menunjukkan keputusasaan, merasa dirinya menjadi beban, atau berbicara seolah tidak memiliki masa depan.

Meski demikian, Marini menegaskan satu tanda saja tidak otomatis menunjukkan seseorang akan melakukan bunuh diri. Namun, perubahan perilaku yang signifikan tidak sebaiknya diabaikan.

Berani Bertanya dan Mendengarkan

Kepedulian dapat dimulai dengan langkah sederhana, yakni bertanya dan mendengarkan. Orang terdekat tidak harus langsung memberikan nasihat, apalagi membandingkan persoalan yang sedang dihadapi.

Pertanyaan sederhana dapat menjadi awal untuk membuka komunikasi.

“Kita bisa memulai dengan pertanyaan sederhana seperti, ‘Saya melihat akhir-akhir ini kamu berbeda. Kamu sedang mengalami sesuatu?’,” tuturnya.

Jika situasinya mengkhawatirkan, orang terdekat juga dapat bertanya secara langsung apakah seseorang pernah memiliki pikiran untuk menyakiti diri atau mengakhiri hidup.

Marini menegaskan, pertanyaan mengenai bunuh diri tidak berarti menanamkan ide tersebut. Sebaliknya, pertanyaan yang disampaikan dengan empati dapat membuka ruang bagi seseorang untuk mengungkapkan apa yang sedang dialaminya.

Jangan Membiarkan Orang dalam Krisis Sendirian

Menurut Marini, dukungan juga tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Kalau ada apa-apa cerita saja.” Seseorang yang sedang mengalami krisis terkadang tidak memiliki energi psikologis untuk meminta bantuan.

Karena itu, lingkungan terdekat perlu lebih aktif hadir. Jika risikonya tinggi, seseorang dapat ditemani dan dipastikan tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri.

Orang terdekat juga dapat membantu menjauhkan akses terhadap benda atau situasi yang berpotensi membahayakan serta menghubungkan orang tersebut dengan psikolog, psikiater, fasilitas kesehatan, atau layanan krisis.

“Menurut saya salah satu pesan terpenting dalam pencegahan bunuh diri adalah bahwa kita tidak harus menjadi ahli untuk mulai menolong, tetapi kita juga harus mengetahui batas kemampuan kita,” jelasnya.

Marini mengingatkan, orang terdekat tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan sendirian. Jika seseorang sudah menunjukkan pikiran atau keinginan untuk mengakhiri hidup, bantuan profesional perlu segera dilibatkan.

Bangun Lingkungan yang Aman untuk Bercerita

Ia juga mendorong terbentuknya budaya peduli di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, maupun tempat kerja.

Menurutnya, lingkungan yang sehat secara psikologis adalah lingkungan yang membuat seseorang merasa aman untuk mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja tanpa takut dianggap lemah, mencari perhatian, atau bermasalah.

“Semakin aman seseorang untuk bercerita, semakin besar kesempatan kita memberikan pertolongan sebelum krisis berkembang lebih jauh,” tegasnya.

Marini menilai pencegahan bunuh diri dapat dimulai dari tindakan sederhana: memperhatikan perubahan, berani bertanya, bersedia mendengar, dan tidak membiarkan seseorang menghadapi masa sulit seorang diri.

“Kadang kita tidak harus mempunyai jawaban atas semua masalahnya. Kehadiran yang tulus dapat menjadi jembatan agar seseorang bertahan sampai mendapatkan pertolongan yang tepat,” pungkasnya.

Dilansir dari detikJatim.