Nestapa Balita di Pamekasan Meninggal, Keluarga Terkendala Biaya dan Rujukan CT Scan
Pamekasan – Duka mendalam dirasakan Ida Saidah (35) dan suaminya, Mustofa (43), warga Desa Bandaran, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan. Anak ketiga mereka, Mohammad Gazal Al Farizki (3), meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Mohammad Noer Pamekasan.
Mohammad Gazal meninggal pada Selasa (22/9/2026) sekitar pukul 12.30 WIB. Di tengah duka, Ida mengaku kesulitan memperjuangkan pengobatan anaknya karena keterbatasan biaya.
“Saya sempat mengurus BPJS untuk mendapatkan pelayanan gratis, tapi harus menunggu lama, sementara anak sudah sakit,” kata Ida, Senin (28/9/2026).
Sebelum dibawa ke rumah sakit, Gazal sempat dirawat di rumah. Karena kondisinya tidak membaik, Ida membawanya ke bidan, klinik, hingga Puskesmas Bandaran. Saat itu, hasil pemeriksaan disebut menunjukkan kondisi tubuh anaknya normal.
Khawatir biaya semakin besar, Ida akhirnya membawa Gazal pulang. Ia kemudian berusaha mencari pinjaman untuk membiayai pemeriksaan dan perawatan. Total biaya yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp 550 ribu.
Kondisi Gazal kemudian kembali memburuk. Keluarga akhirnya membawa anak tersebut ke RSUD Mohammad Noer Pamekasan melalui program Biakes Maskin.
Setelah sehari dirawat, kondisi Gazal menurun hingga harus masuk ICU. Dokter kemudian menyarankan agar Gazal dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya untuk menjalani pemeriksaan CT Scan otak.
Keluarga menyetujui rujukan tersebut. Namun, menurut Ida, proses rujukan tidak kunjung terlaksana. Ia mengaku beberapa kali menanyakan kepastian kepada dokter.
“Saat itu, saya tanya terus ke dokter, tapi tak kunjung dirujuk. Alasannya belum ada informasi dari rumah sakit, juga bilang belum ada kamar,” ungkapnya.
Lima hari menjalani perawatan di ICU, kondisi Gazal semakin kritis. Pada Selasa sekitar pukul 08.00 WIB, keluarga mendapat kabar mengenai kondisi tersebut. Sekitar pukul 12.30 WIB, Gazal dinyatakan meninggal dunia.
Ida mengaku menyesal karena tidak memiliki cukup uang untuk membawa anaknya berobat ke tempat lain.
“Seandainya saya punya uang, saya bawa ke mana pun tanpa menunggu dari rumah sakit,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan apakah status sebagai penerima program Biakes Maskin memengaruhi proses rujukan anaknya.
Terpisah, Bupati Pamekasan Kholilurrahman menegaskan pasien dalam kondisi kritis harus segera mendapatkan penanganan medis tanpa membedakan status kepesertaan maupun kemampuan membayar.
“Kalau ada orang sakit kritis, nyawanya sudah Senin Kamis, tidak perlu ditanya, ini BPJS atau umum,” tegasnya.
Ia juga meminta masyarakat yang menghadapi kondisi darurat medis segera membawa pasien ke rumah sakit dan tidak menunda penanganan hanya karena persoalan biaya.
Dilansir dari detikJatim.
