Hilangnya Pendaki Ilegal yang Nekat Terobos Semeru Saat Pendakian Ditutup
LUMAJANG, JATIMKU.COM – Delapan pendaki nekat menerobos kawasan Gunung Semeru melalui jalur ilegal saat aktivitas pendakian masih ditutup. Rombongan tersebut masuk melalui jalur Candi Jawar, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.
Pendakian Gunung Semeru hingga kini masih ditutup akibat kondisi kebakaran hutan dan aktivitas erupsi. Dari delapan pendaki, tujuh orang lebih dulu diamankan petugas, sedangkan satu pendaki sempat terpisah dari rombongan dan tersesat.
Pendaki yang sempat hilang tersebut akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat setelah tim SAR gabungan melakukan pencarian.
Dilansir dari detikJatim, delapan pendaki tersebut berasal dari sejumlah daerah di Jawa Timur, di antaranya Surabaya, Tuban, dan Kediri.
Delapan Pendaki Nekat Masuk Jalur Ilegal
Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNBTS Bambang Suriyono membenarkan adanya delapan pendaki yang menerobos kawasan Gunung Semeru.
"Mereka asal Jawa Timur, ada yang dari Tuban, Surabaya, Kediri, dan lain-lain," kata Bambang, Rabu (9/9/2026).
Rombongan tersebut mulai melakukan pendakian pada Senin (7/9/2026). Mereka memilih jalur Candi Jawar di Kecamatan Ampelgading sebagai akses menuju kawasan Gunung Semeru.
Padahal, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) masih memberlakukan penutupan pendakian akibat kebakaran hutan.
"Mereka melakukan pendakian secara ilegal dan saat ini pendakian Gunung Semeru masih ditutup," ujar Bambang.
TNBTS memastikan jalur yang digunakan para pendaki tersebut berada di dalam kawasan konservasi.
"Ya, jelas di kawasan TNBTS," tegasnya.
Tujuh pendaki yang berhasil diamankan kemudian dipulangkan sementara. Mereka masih menjalani proses pemeriksaan terkait pelanggaran masuk ke kawasan yang sedang ditutup.
Pendaki Kediri Sempat Tersesat
Sementara satu pendaki lainnya, Muhammad Isa Daus Wasa (20), warga Dusun Tunge, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, mengalami masalah setelah terpisah dari rombongan.
Isa dilaporkan terpisah pada Senin (7/9/2026). Berdasarkan keterangan ayahnya, saat itu Isa berada di sekitar kawasan Puncak Limpak.
Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti tim SAR gabungan. Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit mengerahkan satu tim rescue Unit Siaga SAR Malang Raya untuk bergabung dalam pencarian.
Tim kemudian membagi pencarian menjadi dua search and rescue unit (SRU). Unsur yang terlibat antara lain Unit Siaga SAR Malang Raya, BPBD Kabupaten Malang, TNBTS, Bolang Rescue, Gimbal Alas, serta warga sekitar.
Ditemukan Selamat Setelah Dicari Hampir 7 Jam
Setelah melakukan pencarian sekitar 6 jam 45 menit, tim SAR gabungan akhirnya menemukan Isa dalam kondisi selamat.
Setelah ditemukan, Isa beristirahat dan mendapatkan makanan serta minuman untuk memulihkan kondisi tubuh sebelum menjalani proses evakuasi turun.
Koordinator Unit Siaga SAR Malang Raya Imam Nahrowi mengatakan evakuasi menuju posko dimulai sekitar pukul 14.30 WIB.
Tim harus berhati-hati karena medan yang dilalui cukup ekstrem. Kondisi tersebut semakin menyulitkan karena perjalanan berlangsung hingga malam dengan penerangan yang minim.
"Sekitar pukul 19.00 WIB, tim SAR gabungan dan Isa tiba di posko," kata Imam.
Sesampainya di posko, Isa menjalani pemeriksaan dan dimintai keterangan mengenai aktivitasnya selama berada di kawasan Gunung Semeru.
Setelah proses tersebut selesai, Isa kemudian diserahkan kepada keluarganya.
TNBTS Siapkan Pengamanan 24 Jam
Kasus delapan pendaki yang menerobos penutupan menjadi perhatian Balai Besar TNBTS. Pihak pengelola kawasan menyatakan akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk menentukan langkah selanjutnya.
"Sementara kami berkoordinasi dengan pihak penegak hukum Kementerian Kehutanan dan Kepolisian," ujar Bambang.
TNBTS juga akan memperketat pengawasan di kawasan Gunung Semeru. Sebelumnya, penjagaan lebih intensif dilakukan pada akhir pekan karena pendaki ilegal dinilai lebih sering masuk saat weekend.
Namun, munculnya kasus pendakian ilegal pada hari kerja membuat pola pengamanan akan diperluas.
"Sementara ini penjagaan diketatkan di weekend sesuai tren masuknya pendaki ilegal. Tetapi ini ada yang masuk weekday dan jamnya tidak tentu, sehingga butuh penjagaan 24 jam setiap hari," pungkas Bambang.
TNBTS selanjutnya akan memperkuat penjagaan selama 24 jam untuk mencegah pendaki menerobos kawasan Gunung Semeru selama penutupan pendakian masih diberlakukan.