Hadapi Sampah, Dosen dan Mahasiswa KKNUB Tata TPS serta Bank Sampah Desa Senggrong

Table of Contents
Jatimku,Malang - Persoalan sampah di Desa Krebet Senggrong, Kecamatan Bululawang, Kabupaten Malang menjadi masalah bersama karena sampah yang ada tidak hanya berasal dari warga setempat. Masyarakat dari luar desa yang tidak mengikuti layanan pengangkutan sampah masih ditemukan membuang sampah di kawasan Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Hal ini diakui oleh Kepala Desa Krebet Senggrong, Selamet Efendi yang mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Bahkan, pernah ditemukan truk dari luar desa yang membuang sampah di kawasan bank sampah pada waktu subuh.

“Pernah ada satu truk datang saat subuh dan membuang sampah di kawasan bank sampah. Truk tersebut bukan bagian dari layanan pengangkutan sampah Desa Krebet Senggrong,” ujar Selamet.

Kondisi tersebut mendorong Dr. Rizka Amalia, S.K.Pm., M.Si. bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) melakukan penataan kawasan TPS dan Bank Sampah Senggrong Lestari sepanjang Juli 2026.

Program ini didukung dana Pengabdian Masyarakat Internal FBiPK dan National Institute for Health and Care Research (NIHR) UB, serta berkolaborasi dengan Pemerintah Desa Krebet Senggrong, pengelola bank sampah, dan masyarakat.

Program tidak hanya berfokus pada kebersihan, tetapi juga mengubah kawasan TPS dan bank sampah menjadi lingkungan yang lebih tertata, hijau, dan edukatif.

Kegiatan diawali sosialisasi dan
pelatihan pada 10 Juli 2026 yang melibatkan perangkat desa, kader lingkungan, kader kesehatan, PKK, pengelola bank sampah, dan masyarakat.

Selanjutnya, pada 21–30 Juli 2026, mahasiswa bersama masyarakat melakukan pembersihan kawasan, pembangunan taman, penataan tanaman, pemasangan pembatas dan portal, serta pemasangan poster, banner, dan papan informasi tanaman. 
Galon bekas dimanfaatkan sebagai
pot dan tempat sampah, sedangkan botol plastik digunakan untuk membuat ecobrick.

Program juga memperkenalkan sistem pelaporan lingkungan berbasis QR Code yang terhubung dengan Google Form. Warga dapat melaporkan kondisi sampah dengan mengirimkan foto, waktu, lokasi, dan keterangan sehingga dapat menjadi bahan pemantauan bagi pemerintah desa.

“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya menyediakan bak untuk menampung sampah. Dibutuhkan penataan kawasan, pengawasan, serta keterlibatan masyarakat agar pengelolaan dapat berjalan secara berkelanjutan,” ujar ketua tim mahasiswa KKN.

Masyarakat terlibat langsung dalam pembersihan kawasan, penyiapan media tanam, penataan taman, hingga pemasangan fasilitas pendukung. Sejumlah warga juga menyumbangkan tanaman
hias untuk memperindah kawasan.

“Semoga dengan adanya program ini, pengelolaan sampah dan lingkungan di Desa Krebet Senggrong dapat menjadi lebih baik dan lebih bersih,” ujar salah satu kader lingkungan.

Setelah penataan, kawasan TPS dan Bank Sampah Senggrong Lestari menjadi lebih bersih, rapi, hijau, dan nyaman. Program ini menunjukkan bahwa kawasan pengelolaan sampah dapat dikembangkan tidak hanya sebagai tempat penampungan dan pengelolaan sampah, tetapi juga
sebagai ruang edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi dosen, mahasiswa, pemerintah desa, pengelola bank sampah, masyarakat, tim pengabdian, dan NIHR UB diharapkan dapat memastikan hasil penataan terus dirawat dan berkelanjutan. (sid/aw)