Danrem 083/Bdj Paparkan Penanganan Karhutla TNBTS pada Tim Media Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata

Table of Contents
Jatimku, Probolinggo – Tim media utusan khusus Presiden bidang pariwisata melakukan kunjungan ke Posko Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Sabtu (16/8/2026).

Tim diterima langsung oleh Kolonel Inf Wahyu Ramadhanus Suryawan, S.Sos., M.M.S., M.Han., Danrem 083/Baladhika Jaya selaku Dansektor Penanganan Karhutla Wilayah Korem 083/Bdj.

Dalam kesempatan tersebut, Danrem 083/Bdj menyampaikan selamat datang kepada tim media yang dipimpin Hendra dan rombongan sekaligus memberikan gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan langkah penanganan Karhutla di wilayah TNBTS.

“Selamat datang kepada Mas Hendra dan rombongan di Posko Penanganan Karhutla. Sengaja kami arahkan ke posko terlebih dahulu agar dapat melihat secara langsung bagaimana penanganan Karhutla dilakukan, termasuk kondisi dan berbagai kendala yang dihadapi di lapangan,” ujar Kolonel Inf Wahyu.

Danrem menjelaskan bahwa wilayah Korem 083/Bdj mencakup 14 kabupaten dan kota, mulai dari Malang Raya, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo hingga Banyuwangi. Sebagian besar wilayah tersebut memiliki kawasan hutan yang rawan terhadap kebakaran, khususnya selama musim kemarau.

“Musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung hingga Agustus, September, bahkan dapat berlanjut sampai Oktober. Karena itu, seluruh jajaran terus meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi Karhutla,” jelasnya.

Khusus kawasan TNBTS, lanjut Danrem, terdapat empat wilayah administrasi yang saling berbatasan, yakni Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Kondisi tersebut membuat koordinasi lintas wilayah menjadi sangat penting dalam setiap tahapan penanganan.

“Setiap rapat koordinasi dan evaluasi selalu melibatkan pemerintah kabupaten melalui BPBD masing-masing. Walaupun titik kebakaran berada di satu wilayah, wilayah yang tidak terdampak tetap harus siaga dan melaksanakan patroli karena kawasan ini merupakan wilayah perbatasan,” tegasnya.
Karhutla di kawasan TNBTS sendiri telah berlangsung sejak 3 Agustus 2026.
Menurut Danrem, saat ini api secara umum telah berhasil dipadamkan, namun masih terdapat potensi munculnya asap maupun titik api baru akibat bara yang tersimpan di dalam lapisan humus dan tanah.

Salah satu kawasan yang sebelumnya terdampak berada di wilayah Kabupaten Probolinggo. Titik api dari Blok Bantengan, Watangan, sempat menjalar ke arah timur laut hingga Puncak P30. Kondisi medan berupa lereng dan ketinggian menjadi salah satu tantangan utama dalam proses pemadaman.

“Alhamdulillah, untuk wilayah Probolinggo saat ini sudah padam dan sampai sekarang tidak ada indikasi asap maupun titik api. Namun kami tetap melakukan pemantauan karena bara api dapat tersimpan di dalam tanah,” ungkapnya.

Danrem juga menegaskan bahwa penyebab munculnya titik api masih dalam proses penyelidikan. Pihaknya tidak ingin menyampaikan dugaan secara prematur sebelum terdapat hasil penyelidikan dari pihak yang berwenang.

“Untuk penyebab kebakaran kami masih menunggu proses penyelidikan, khususnya dari Polri. Kami tidak ingin menyampaikan secara prematur. Namun berdasarkan analisa sementara, faktor alam kemungkinan kecil karena kondisi kawasan cukup dingin, terutama di ketinggian,” katanya.

Sementara itu, di wilayah Kabupaten Pasuruan, kebakaran sebelumnya terjadi di kawasan Bongkah dan kemudian meluas menuju sejumlah lokasi seperti Bukit Dingklik, Punggung Naga, Pakis Bincis, Bukit Cinta hingga Bukit Kingkong. Upaya pemadaman dilakukan secara terpadu melalui operasi darat maupun water bombing.

Kondisi medan yang berupa perengan curam dan kawasan berketinggian menjadi kendala tersendiri. Ditambah kabut yang sempat menghambat operasi water bombing serta angin kencang yang dapat kembali menghidupkan bara api.

“Kalau wilayahnya datar relatif mudah kita atasi. Kendala utama adalah perengan dan ketinggian. Ketika air dijatuhkan dari atas tidak sampai ke titik api, sementara dari bawah juga sulit menjangkaunya,” jelas Danrem.

Personel gabungan juga terus melakukan pengamanan agar kobaran api tidak bergerak menuju kawasan wisata, termasuk Penanjakan, Seruni Point dan sejumlah lokasi wisata lainnya.

Danrem menambahkan, berdasarkan pemantauan udara yang dilakukan pada pagi hari, masih ditemukan indikasi satu titik asap di kawasan berketinggian. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena bara api yang berada di dalam tanah dapat kembali muncul sewaktu-waktu.

Untuk mendukung penanganan, kekuatan personel yang tercatat saat ini mencapai 1.168 orang, belum termasuk relawan dan masyarakat lokal yang turut membantu di lapangan. Dengan demikian, total kekuatan yang terlibat di empat wilayah sekitar TNBTS diperkirakan mendekati 1.500 orang.

“Personel ini terdiri dari unsur TNI, Polri, BPBD, TNBTS, Perhutani, Damkar, Manggala Agni, relawan dan masyarakat. Semua bergerak sesuai sektor dan tugas masing-masing,” ujar Kolonel Inf Wahyu.

Danrem juga menyampaikan perlunya penguatan peralatan penanganan Karhutla, khususnya untuk operasi darat. Selain dukungan water bombing untuk operasi udara, dibutuhkan peralatan portable yang dapat dibawa masuk ke kawasan sulit dijangkau kendaraan maupun personel dalam jumlah besar.

“Untuk operasi darat kami masih membutuhkan tambahan peralatan portable yang bisa dibawa masuk ke medan sulit. Selama ini dalam kondisi tertentu masih menggunakan peralatan manual seperti gepyok dan penggaruk untuk membuka tanah dan memutus bara,” ungkapnya.

Terkait pembukaan kembali kawasan wisata TNBTS, Danrem menegaskan bahwa keselamatan masyarakat dan wisatawan menjadi prioritas utama. Sejumlah kawasan terdampak masih dilakukan penutupan sementara, khususnya lokasi yang sebelumnya masih ditemukan asap maupun potensi bara.

“Kami memahami masyarakat dan pelaku pariwisata berharap kawasan wisata segera dibuka. Tetapi prinsip kami adalah keselamatan dan kredibilitas pemerintah. Jangan sampai kita menyatakan aman, kemudian muncul titik api kembali,” tegasnya.

Menurutnya, pembukaan kawasan wisata dapat direkomendasikan apabila hasil pemantauan menunjukkan tidak adanya titik api maupun titik asap serta telah dilakukan kajian secara menyeluruh oleh pihak terkait.

“Kami berharap pariwisata segera dapat berjalan kembali, tetapi tentunya setelah dilakukan kajian dan dipastikan wilayah tersebut benar-benar aman. Kami siap memberikan rekomendasi kepada pihak terkait, termasuk Kepala Balai TNBTS, berdasarkan kondisi faktual di lapangan,” pungkas Danrem.

Kunjungan tim media utusan khusus Presiden bidang pariwisata tersebut selanjutnya dilanjutkan dengan peninjauan sejumlah titik dan pos pemantauan untuk melihat secara langsung kondisi kawasan terdampak serta pelaksanaan penanganan Karhutla TNBTS.(sid/aw)