Surabaya Berpotensi Kehilangan Rp 471 Miliar per Tahun akibat Banjir
SURABAYA, JATIMKU.COM – Banjir dan genangan di Kota Surabaya bukan hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menimbulkan dampak ekonomi yang cukup besar. Potensi kerugian ekonomi akibat gangguan mobilitas, hilangnya waktu produktif, serta tersendatnya distribusi barang dan jasa diperkirakan mencapai Rp 471 miliar setiap tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan genangan di Kota Surabaya tidak sekadar berkaitan dengan infrastruktur, tetapi juga menyangkut keberlangsungan aktivitas ekonomi masyarakat dan pelaku usaha.
Dilansir dari Kompas.com, genangan yang muncul saat musim hujan kerap terjadi di sejumlah titik padat aktivitas. Kondisi tersebut dapat menyebabkan antrean kendaraan, memperpanjang waktu perjalanan, hingga menghambat masyarakat menuju tempat kerja.
Bagi pelaku usaha, banjir juga berpotensi menurunkan omzet ketika akses menuju lokasi usaha terganggu. Distribusi barang dan jasa pun dapat mengalami keterlambatan.
Pemkot Surabaya Siapkan Pembiayaan Rp 1,16 Triliun
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan persoalan genangan telah lama menjadi salah satu keluhan masyarakat. Karena itu, pemerintah kota berupaya mempercepat pembangunan dan perbaikan infrastruktur pengendalian air.
Pemkot Surabaya kemudian menjalin kerja sama pembiayaan dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI. Penandatanganan Akta Perjanjian Pembiayaan senilai Rp 1,16 triliun dilakukan di Balai Kota Surabaya pada Senin (10/8/2026).
Dana tersebut akan difokuskan untuk tiga kebutuhan utama, yakni pembangunan saluran air Gunungsari, perbaikan drainase di wilayah rawan genangan, serta pemasangan Penerangan Jalan Umum (PJU).
“Dengan pembiayaan ini, kami bisa mempercepat penanganan di titik-titik tersebut sekaligus memperbaiki penerangan jalan yang selama ini dikeluhkan warga,” ujar Eri, dikutip Kompas.com.
Menurut Eri, pembangunan tersebut diharapkan memberikan manfaat yang dapat langsung dirasakan masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
Infrastruktur Banjir Jadi Investasi Ekonomi
Direktur Pembiayaan Publik dan Pengembangan Proyek PT SMI, Faaris Pranawa, menilai pembangunan infrastruktur pengendalian banjir memiliki nilai ekonomi yang besar.
Menurutnya, kelancaran transportasi dan ketahanan kota menghadapi perubahan iklim merupakan faktor penting dalam menjaga aktivitas perdagangan dan jasa.
Setiap waktu yang berhasil diselamatkan dari kemacetan akibat banjir memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, pembangunan drainase tidak hanya dipandang sebagai proyek fisik, tetapi juga investasi untuk menjaga produktivitas kota.
“Penerangan jalan dan pengendalian genangan di Surabaya kami lihat sebagai investasi yang mendukung kelancaran mobilitas ekonomi,” tutur Faaris.
Ada Efek Berganda hingga 2,52 Kali
Selain berpotensi menekan kerugian ekonomi akibat banjir, proyek infrastruktur tersebut diperkirakan mampu memberikan multiplier effect hingga 2,52 kali terhadap perekonomian Surabaya.
Artinya, investasi yang dikeluarkan untuk pembangunan infrastruktur dapat memberikan dampak berantai terhadap berbagai sektor ekonomi lainnya.
Pembiayaan sebelumnya juga telah dilakukan pada 24 April 2026 dengan nilai sekitar Rp 885,85 miliar, yang diarahkan untuk kebutuhan lahan, konstruksi, peningkatan konektivitas antarwilayah, serta pemerataan pertumbuhan ekonomi kota.
Dengan investasi tersebut, penguatan sistem drainase Surabaya diharapkan tidak hanya mengurangi genangan, tetapi juga menjaga mobilitas warga, melindungi aktivitas UMKM dan pelaku usaha, serta memperkuat posisi Surabaya sebagai salah satu pusat ekonomi utama di Jawa Timur.
