Ratusan ASN Pilih Keluar, Benarkah Pekerjaan ASN Tak Lagi Jadi Primadona?

Table of Contents

 



JAKARTA, JATIMKU.COM – Menjadi aparatur sipil negara (ASN) masih menjadi salah satu pekerjaan yang banyak diincar masyarakat. Seleksi pegawai negeri sipil (PNS) tetap dibanjiri pelamar meski jumlah formasi yang tersedia terbatas.

Namun, di tengah ketatnya persaingan tersebut, ratusan ASN justru memilih meninggalkan status kepegawaiannya.

Badan Kepegawaian Negara (BKN) mencatat 2.722 ASN mengajukan pemberhentian atas permintaan sendiri sepanjang Semester I 2026. Meski demikian, angka tersebut tidak seluruhnya berarti ASN benar-benar keluar dari birokrasi.

Sebanyak 1.147 orang merupakan PPPK paruh waktu yang beralih menjadi PPPK penuh waktu di instansi baru. Mereka mengundurkan diri secara administratif dari instansi lama, tetapi tetap berstatus ASN.

Sementara itu, 962 PNS masuk kategori pensiun dini yang berkaitan dengan proses administrasi surat keputusan pensiun.

Dengan demikian, hanya 384 orang atau sekitar 14 persen yang benar-benar keluar dari ASN tanpa hak pensiun. Mereka terdiri dari 233 PNS dan 151 CPNS.

Jumlah tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan total ASN yang mencapai sekitar 6,776 juta orang per 1 Juli 2026.

Bukan Eksodus ASN

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rakhmat Hidayat menilai jumlah tersebut belum dapat disebut sebagai eksodus ASN.

"Jika diproyeksikan setahun pun angkanya tidak sampai sepersepuluh persen," kata Rakhmat kepada Kompas.com, Rabu (12/8/2026).

Menurutnya, persoalan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak ASN yang keluar, melainkan mengapa mereka bersedia meninggalkan pekerjaan yang selama ini dianggap memberikan kepastian.

Profesi ASN selama puluhan tahun memang memiliki posisi khusus di tengah masyarakat Indonesia. Bagi sebagian keluarga, menjadi ASN bahkan dianggap sebagai simbol keberhasilan dan pencapaian.

Karena itu, keputusan mundur dari ASN tidak selalu sekadar persoalan karier.

Minat Menjadi ASN Masih Tinggi

Fenomena ratusan ASN yang mengundurkan diri juga tidak berarti minat masyarakat terhadap profesi tersebut telah hilang.

Kepala BKN Zudan Arif Fakrulloh menegaskan proses rekrutmen ASN masih berjalan normal dan peminat PNS tetap sangat tinggi.

"Semua masih berjalan normal, on the track. Peminat ke PNS tinggi sekali. Rata-rata yang masuk ke PNS hanya 7 persen dari seluruh peserta, jadi sangat tinggi persaingannya," ujar Zudan kepada Kompas.com, Kamis (13/8/2026).

Artinya, ASN masih menjadi pekerjaan yang sangat diminati. Namun, cara masyarakat memandang keamanan dan masa depan pekerjaan mulai mengalami perubahan.

Jika sebelumnya status ASN dianggap sebagai salah satu jalan utama menuju kehidupan yang stabil, kini masyarakat memiliki lebih banyak alternatif untuk memperoleh keamanan finansial dan karier.

Alasan ASN Memilih Mundur Beragam

BKN mencatat sejumlah alasan yang mendorong ASN mengundurkan diri. Di antaranya persoalan keluarga, ingin fokus pada pekerjaan atau bidang lain, lokasi penempatan yang terlalu jauh, kondisi kesehatan, hingga keinginan mengembangkan usaha.

Faktor keluarga juga dinilai semakin penting.

Ketika suami dan istri sama-sama memiliki pekerjaan dan karier, misalnya, penempatan salah satu pihak di daerah yang jauh dapat berdampak terhadap kehidupan rumah tangga.

"Jadi ketika suami dan istri sama-sama bekerja dan sama-sama memiliki karier, itu misalnya perintah mutasi itu berhenti menjadi soal administrasi dan berubah menjadi soal apakah sebuah rumah tangga harus dibongkar," ujar Rakhmat.

Selain itu, persoalan gaji juga tidak dapat dilepaskan. Namun, menurut Rakhmat, keluhan ASN bukan semata-mata mengenai kecil atau besarnya gaji.

"Yang muncul selama ini dalam keluhan itu bukan gaji kecil, melainkan gaji tidak sebanding dengan beban kerja. Sebuah penilaian tentang keadilan, bukan tentang angka," katanya.

Bukan Hanya Soal Gaji

Selain penghasilan, jenjang karier, beban kerja, fleksibilitas, penghargaan, serta peluang pengembangan diri juga ikut memengaruhi keputusan seseorang untuk bertahan sebagai ASN.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Indonesia (UI) Eko Prasojo menilai sebagian generasi muda kini semakin mempertimbangkan fleksibilitas dan kesempatan mengembangkan diri.

Menurutnya, sistem kerja ASN yang kaku dan hierarkis dapat membuat sebagian anak muda merasa kurang tertantang.

"Sudah menuju ke sana, ASN tidak lagi menjadi primadona, terutama karena kaku, hierarkis dan tidak menantang anak-anak muda untuk berkreasi," kata Eko.

Meski demikian, pandangan tersebut perlu ditempatkan secara proporsional karena data BKN masih menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap seleksi PNS.

Pemerintah Perlu Melihat Siapa yang Keluar

Rakhmat menilai pemerintah tidak perlu terlalu khawatir terhadap 384 ASN yang memilih keluar dari sisi jumlah pegawai. Tingginya jumlah peminat dalam setiap rekrutmen memungkinkan posisi yang kosong kembali diisi.

Namun, persoalan yang lebih penting adalah siapa yang keluar dari birokrasi tersebut.

Jika mereka merupakan pegawai dengan keahlian yang mudah diserap sektor swasta, seperti tenaga kesehatan, teknologi informasi, atau tenaga profesional dengan sertifikasi tertentu, birokrasi berpotensi kehilangan kompetensi yang dibutuhkan.

"Risikonya memang terletak pada komposisi," ujar Rakhmat.

Ia bahkan mengingatkan adanya potensi penyaringan terbalik, ketika birokrasi justru kehilangan pegawai dengan kompetensi yang paling dibutuhkan untuk melakukan pembaruan.

Karena itu, pengunduran diri ASN seharusnya dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.

Alasan pegawai memilih keluar perlu dipetakan melalui wawancara akhir masa kerja, evaluasi kebijakan mutasi, penempatan sesuai kompetensi, hingga penyediaan saluran keberatan yang efektif.

Pada akhirnya, 384 ASN yang memilih keluar belum membuktikan bahwa pekerjaan ASN sudah tidak menjadi primadona. Buktinya, jutaan orang masih bersaing untuk mendapatkan kursi ASN yang jumlahnya terbatas.

Namun, fenomena tersebut menjadi sinyal bahwa cara masyarakat memandang keamanan pekerjaan telah berubah. ASN masih diminati, tetapi kini bukan lagi satu-satunya jalan yang dianggap mampu menjamin masa depan.

Dilansir dari Kompas.com.