Momen HUT RI, Pengrajin Lampion Merah Putih di Malang Kebanjiran Pesanan

Table of Contents

 



MALANG, JATIMKU.COM – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, permintaan lampion bernuansa merah putih di Kota Malang, Jawa Timur, mengalami peningkatan. Pesanan tidak hanya datang dari wilayah Malang Raya, tetapi juga berbagai daerah di luar Jawa Timur.

Salah satu perajin yang merasakan peningkatan permintaan tersebut adalah Ahmad Syamsudin. Pengrajin lampion yang telah menjalankan usahanya selama lebih dari 20 tahun itu mengaku mulai kebanjiran pesanan sejak April 2026.

Hingga mendekati perayaan 17 Agustus, pesanan masih terus berdatangan. Salah satu pesanan dalam jumlah besar baru saja dikirim Ahmad ke Kabupaten Lumajang.

"Baru tanggal 10 kemarin saya kirimkan ke Lumajang, sebanyak 500 lampion. Sekarang juga masih mengerjakan pesanan," ujar Ahmad, Selasa (11/8/2026), dilansir dari Kompas.com.

Pesanan Datang dari Berbagai Daerah

Selain Lumajang, lampion produksi Ahmad juga dipesan untuk kebutuhan perayaan HUT RI di sejumlah wilayah Malang Raya, Jawa Timur, Bandung hingga Jakarta.

Untuk wilayah Jakarta dan Bandung, misalnya, pesanan bisa mencapai sekitar 200 hingga 300 lampion untuk masing-masing daerah.

Harga lampion yang diproduksi Ahmad cukup beragam. Konsumen dapat memilih lampion dengan harga mulai Rp25.000 hingga Rp500.000 per buah, tergantung ukuran dan desain.

"Harganya tergantung ukuran dan desain. Kalau yang karakter dan ukuran besar ya sampai Rp500.000," jelasnya.

Meningkatnya permintaan menjelang HUT RI ternyata belum otomatis membuat keuntungan Ahmad meningkat signifikan. Ia justru menghadapi kenaikan harga bahan baku yang digunakan untuk memproduksi lampion.

Sejumlah material seperti rotan, kain, lem, benang, serta bahan pendukung lainnya mengalami kenaikan harga hingga sekitar 20 persen. Kondisi tersebut membuat biaya produksi ikut meningkat.

Harga Jual Tetap Dipertahankan

Meski biaya produksi naik, Ahmad memilih untuk tidak menaikkan harga jual. Keputusan itu diambil demi menjaga pelanggan dan mempertahankan keberlangsungan usahanya.

"Meskipun barang baku naik, kita enggak berani menaikkan harga jual, kualitas juga tetap kami jaga. Karena dikhawatirkan pelanggan kecewa terus enggak pesan lagi tahun depan," ungkap Ahmad.

Konsekuensinya, keuntungan yang diperoleh dari setiap lampion menjadi lebih tipis. Namun, Ahmad menilai menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting untuk keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.

Usaha lampion tersebut kini juga menjadi sumber penghasilan bagi 11 orang karyawan yang bekerja membantu proses produksi.

Tak Hanya untuk HUT RI

Bisnis lampion Ahmad tidak hanya bergantung pada momentum perayaan kemerdekaan. Permintaan biasanya kembali meningkat ketika memasuki musim Tahun Baru Imlek.

Menariknya, pasar lampion produksinya juga telah menjangkau mancanegara. Ahmad rutin mendapatkan pesanan dari sejumlah negara Eropa, seperti Prancis, Italia, dan Belanda.

Pada musim Imlek, jumlah pesanan bahkan dapat mencapai 3.000 hingga 5.000 lampion.

"Kalau momen Agustusan kirim ke Jakarta, Bandung, masing-masing 200-300 pcs. Kalau momen Imlek ke Italia. Yang penting sudah untung ada pesanan di Agustus ini," pungkasnya.

Bagi Ahmad, meningkatnya pesanan menjelang HUT ke-81 RI menjadi momentum penting untuk menggerakkan kembali usaha kerajinan sekaligus mempertahankan tradisi produksi lampion yang telah digelutinya selama lebih dari dua dekade.