Siapa Moh Syaifullah? Pria di Pamekasan yang Viral Usai Panjat Tiang Bendera
PAMEKASAN, JATIMKU.COM – Sosok Moh Syaifullah (53) menjadi perhatian publik setelah aksinya memanjat tiang bendera setinggi 8 meter tanpa pengaman saat upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kantor Kecamatan Pamekasan, Jawa Timur, Senin (17/8/2026).
Aksi tersebut dilakukan secara spontan setelah tali tiang bendera tiba-tiba putus saat prosesi pengibaran Merah Putih berlangsung.
Dilansir dari Kompas.com, Rabu (19/8/2026), Syaifullah yang saat itu mengenakan seragam Korpri, celana hitam, dan kopiah langsung melepas sepatunya lalu memanjat tiang bendera.
Tanpa menggunakan alat pengaman, ia berusaha mencapai tali yang terputus di bagian atas tiang. Sejumlah ASN kemudian membantu menahan bagian bawah tiang agar tetap berdiri tegak.
"Takut sempat ada, tapi hilang, yang penting bendera bisa dinaikkan dan berkibar," kata Syaifullah.
Setelah berhasil mengambil tali tersebut, Syaifullah turun dan menyerahkannya kepada petugas Paskibraka untuk disambungkan kembali. Prosesi pengibaran bendera pun akhirnya dapat dilanjutkan.
Bukan Sekadar Aksi Heroik
Di balik aksi spontan yang membuat namanya viral, Syaifullah ternyata tengah menjalani perjuangan hidup yang tidak mudah.
Pria yang bekerja sebagai PPPK Paruh Waktu di Kantor Kecamatan Pamekasan tersebut harus merawat istrinya, Romilah (43), yang menderita gagal ginjal.
Setiap pekan, Syaifullah mendampingi istrinya menjalani cuci darah sebanyak dua kali di Surabaya. Hal itu dilakukan karena fasilitas layanan cuci darah di Pamekasan disebut sudah tidak memiliki slot jadwal.
"Sebulan ada delapan kali cuci darah ke Surabaya. Karena, di Pamekasan, sudah tidak ada jadwal," ungkapnya.
Meski biaya cuci darah ditanggung BPJS Kesehatan, Syaifullah tetap harus menyediakan biaya perjalanan dan kebutuhan operasional.
Ia memperkirakan membutuhkan sedikitnya Rp500.000 untuk sekali perjalanan, atau sekitar Rp1 juta setiap pekan.
Dalam sebulan, kebutuhan transportasi dan pengobatan istrinya dapat mencapai sekitar Rp3,5 juta.
Gaji Rp1 Juta, Tanggung Tiga Anak
Kondisi tersebut semakin berat karena penghasilan Syaifullah sebagai PPPK Paruh Waktu hanya sekitar Rp1 juta per bulan.
Syaifullah mulai bekerja di Kantor Kecamatan Pamekasan pada 2021 sebagai pekerja serabutan, termasuk membantu urusan administrasi kependudukan. Pada 2025, ia diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu.
Setelah menjadi ASN, ia mengaku tidak lagi leluasa mencari pekerjaan tambahan.
"Namun, sejak diangkat PPPK, saya tidak bisa bekerja lain karena dianggap sudah ASN," ujarnya.
Selain merawat istri, Syaifullah juga masih memiliki tanggungan tiga anak. Dua anaknya masih bersekolah, sementara satu anak lainnya telah lulus kuliah tetapi belum mendapatkan pekerjaan.
Di tengah keterbatasan ekonomi tersebut, Syaifullah memilih tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai suami dan ayah.
"Meski uang sulit, tapi ini kewajiban bagi saya untuk tetap berusaha menyembuhkan istri. Ini bagian dari ujian, ya harus dijalani," ucapnya.
Memanjat Demi Merah Putih
Aksi Syaifullah memanjat tiang bendera bukan direncanakan sebelumnya. Ia mengatakan keberaniannya muncul karena tidak ingin kegagalan teknis menghentikan pengibaran Merah Putih.
Menurutnya, para petugas Paskibraka sebelumnya sudah melakukan gladi bersih dua kali. Karena itu, putusnya tali bendera dianggap sebagai musibah yang tidak perlu menyalahkan siapa pun.
"Saya bisa merasakan betapa kecewanya mereka jika seandainya bendera tidak dinaikkan. Ini musibah, bukan kelalaian. Saya berani pun demi bendera Merah Putih," tuturnya.
Kini, di tengah perhatian publik terhadap aksinya, Syaifullah hanya berharap diberikan kesehatan dan kekuatan untuk terus mendampingi istrinya serta menghidupi keluarganya.
