Program DTCE 2026 Perkuat Transformasi Digital UMKM melalui Kolaborasi Praktisi dan Talenta Muda

Table of Contents

Surabaya – Transformasi digital menjadi salah satu tantangan yang dihadapi banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tidak sedikit pelaku usaha yang memiliki produk berkualitas, namun masih menghadapi kendala dalam membangun kehadiran digital, mengelola media sosial, hingga memanfaatkan Google Business Profile agar lebih mudah ditemukan oleh calon pelanggan.

Melalui Program Digital Talent Collaborative Ecosystem (DTCE) 2026, hadir sebuah model pembelajaran kolaboratif yang mempertemukan praktisi, mahasiswa, dan siswa SMA yang memiliki kemampuan dasar di bidang kreatif digital untuk bersama-sama mendampingi UMKM secara langsung.
Program yang berlangsung selama Juni hingga Agustus 2026 ini diawali dengan rangkaian pelatihan dan koordinasi di BLSDM KOMDIGI Surabaya. Para peserta memperoleh pembekalan dari instruktur profesional mengenai pemasaran digital berbasis kecerdasan artifisial (AI), manajemen media sosial untuk pengembangan merek digital, produksi foto dan video konten, hingga strategi komunikasi pemasaran.
Keunikan DTCE terletak pada pendekatan pembelajarannya. Setelah mengikuti pelatihan, peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi langsung menerapkan pengetahuan tersebut melalui pendampingan UMKM berdasarkan Scope of Work (SOW) yang telah disusun. Pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari audit kondisi digital UMKM, penyusunan strategi, implementasi, hingga monitoring perkembangan usaha selama program berlangsung. 

Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi ke dalam empat tim supporting yang bekerja secara kolaboratif, yaitu:
Tim Impactory terdiri dari 7 anggota yang mendampingi 11 UMKM.
Tim Pecahin terdiri dari 5 anggota yang mendampingi 11 UMKM.
Tim Bhaskara terdiri dari 5 anggota yang mendampingi 13 UMKM.
Tim Lima Dimensi terdiri dari 7 anggota yang mendampingi 13 UMKM.

Secara keseluruhan terdapat 24 talenta yang berkolaborasi mendampingi 48 UMKM selama program berlangsung. Setiap tim menghadapi tantangan yang berbeda karena setiap UMKM memiliki karakteristik, kebutuhan, serta tingkat kesiapan digital yang tidak sama. Oleh sebab itu, strategi pendampingan disusun secara menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing usaha.

Pendampingan diawali dengan audit kondisi digital untuk memetakan profil usaha, platform digital yang telah dimiliki, serta peluang pengembangannya. Berdasarkan hasil audit tersebut, tim kemudian menyusun strategi yang meliputi optimasi Google Business Profile, pengelolaan media sosial, penyusunan kalender konten, produksi foto dan video promosi, hingga penyusunan strategi komunikasi pemasaran. Seluruh tahapan dilaksanakan secara bertahap sesuai SOW yang telah ditetapkan. 

Salah satu pengalaman pendampingan dilakukan pada UMKM Dapur Bu Kokom. Saat melakukan kunjungan langsung ke lokasi usaha, Tim Impactory menemukan titik lokasi Google Maps yang belum sesuai dengan posisi usaha sebenarnya. Bersama pemilik usaha, tim melakukan pembaruan titik lokasi (edit maps) sekaligus proses verifikasi Google Business Profile secara langsung (on the spot). Setelah itu, profil bisnis mulai ditata melalui pembaruan informasi usaha, penyusunan deskripsi berbasis SEO lokal, penambahan layanan dan menu, pembaruan foto produk, hingga pengelolaan ulasan pelanggan sebagai langkah awal meningkatkan visibilitas usaha di Google maps.


Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital UMKM sering kali dimulai dari hal-hal sederhana yang selama ini luput dari perhatian, namun memiliki dampak besar terhadap kemudahan pelanggan dalam menemukan informasi usaha.

Selain memberikan manfaat bagi UMKM, program ini juga menjadi ruang belajar yang berharga bagi para peserta. Kolaborasi antara praktisi, mahasiswa, dan siswa SMA membuka kesempatan untuk saling berbagi pengalaman, mengembangkan kemampuan komunikasi, bekerja dalam tim lintas latar belakang, serta memahami kebutuhan nyata para pelaku usaha.

Harapannya, pendampingan ini tidak hanya membantu UMKM memiliki aset digital yang lebih baik, tetapi juga meningkatkan visibilitas usaha melalui optimasi Google Business Profile, penguatan SEO lokal, pengelolaan media sosial, serta strategi pemasaran digital yang berkelanjutan.

Lebih dari sekadar pelatihan, DTCE 2026 memperlihatkan bahwa pembelajaran akan menjadi lebih bermakna ketika langsung diterapkan untuk menyelesaikan kebutuhan nyata di masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah, praktisi, talenta muda, dan pelaku UMKM menjadi contoh bagaimana pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) mampu menghasilkan manfaat bersama sekaligus mendorong percepatan transformasi digital UMKM.