Dosen Teknik Industri UB Perkuat Literasi Keselamatan, Ergonomi, dan Kesehatan Digital bagi Komunitas Indonesia di Taiwan

Table of Contents
Jatimku, Malang - Dosen Departemen Teknik Industri, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (DTI FT-UB) kembali memperluas kontribusi akademi level internasional melalui Program Dosen Berkarya Universitas Brawijaya Tahun 2026.

Mengangkat tema “Penguatan Literasi Keselamatan dan Ergonomi Kerja bagi Komunitas Indonesia di Taiwan” langkah ini merupakan upaya meningkatkan pemahaman masyarakat Indonesia yang tinggal dan bekerja di Taiwan mengenai keselamatan kerja, ergonomi, kesehatan digital, dan produktivitas berkelanjutan.

Program tersebut melibatkan sejumlah dosen DTI FT-UB, yaitu Ir. L. Tri Wijaya Nata Kusuma, ST., MT., Ph.D., Dr. Eng. Ir. Oke Oktavianty, S.Si., MT., Ir. Rio Prasetyo Lukodono, ST., MT., Ph.D., Dr. Eng. Zefry Darmawan, ST., MT., Angga Akbar Fanani, ST., MT., dan Astuteryanti Tri Lustyana, ST., MT. Keterlibatan para dosen ini menunjukkan komitmen UB dalam memperluas dampak tridarma perguruan tinggi, khususnya melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan manfaat langsung bagi komunitas Indonesia di luar negeri.

Kegiatan ini ditujukan bagi komunitas Indonesia di Taiwan yang menghadapi berbagai tantangan dalam aktivitas sehari-hari. Tantangan tersebut meliputi proses adaptasi budaya, durasi kerja yang panjang, tuntutan produktivitas, keterbatasan waktu istirahat, serta tingginya intensitas penggunaan perangkat digital. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental, kualitas tidur, kemampuan berkonsentrasi, serta keselamatan selama bekerja.

Tim Dosen ini merancang materi dengan mengintegrasikan aspek keselamatan kerja, ergonomi, dan literasi kesehatan digital. Peserta diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali potensi bahaya di tempat kerja, memperbaiki postur dan metode kerja, mengatur waktu istirahat, serta menggunakan perangkat digital secara sehat dan bertanggung jawab. 

" Pendekatan ini diharapkan dapat membantu peserta menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan, kebutuhan komunikasi, dan proses pemulihan kondisi fisik maupun mental," kata Rio Prasetyo Lukodono, Ph.D salah satu anggota tim dalam keterangan persnya.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah konsep peta risiko digital. Konsep ini menjelaskan bahwa kebutuhan untuk terus terhubung melalui telepon pintar, media sosial, dan aplikasi komunikasi dapat memicu kelelahan digital. Penggunaan perangkat yang tidak terkendali juga dapat meningkatkan stres, mengganggu pola tidur, menurunkan konsentrasi, dan memperbesar kemungkinan terjadinya kesalahan dalam bekerja.

Peserta juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai faktor psikososial yang sering dialami pekerja migran. Faktor tersebut mencakup kerinduan terhadap keluarga, tekanan pekerjaan, perbedaan budaya, keterbatasan interaksi sosial, dan kebiasaan menggunakan media sosial setelah menyelesaikan pekerjaan. Apabila tidak dikelola dengan baik, kondisi tersebut dapat menghambat proses pemulihan, menurunkan kualitas istirahat, memengaruhi kesehatan mental, dan mengurangi performa kerja.

Untuk membantu peserta mengenali kondisi penggunaan media digital, tim dosen memperkenalkan checklist refleksi sederhana. Hasil penilaian dikelompokkan ke dalam kategori hijau, kuning, dan merah. Kategori hijau menunjukkan bahwa penggunaan media digital masih terkendali. Kategori kuning mengindikasikan perlunya kewaspadaan dan perbaikan kebiasaan. Sementara itu, kategori merah menunjukkan bahwa penggunaan media digital telah berpotensi mengganggu pekerjaan, tidur, hubungan sosial, atau kondisi kesehatan.

Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh kesempatan untuk melakukan evaluasi mandiri terhadap pola penggunaan media sosial dan perangkat digital. Peserta didorong untuk mengenali tanda awal kelelahan, gangguan tidur, penurunan konsentrasi, kecemasan, serta ketergantungan terhadap notifikasi dan informasi daring. Pengenalan dini menjadi penting agar peserta dapat segera mengambil langkah perbaikan sebelum muncul dampak yang lebih serius.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, tim dosen DTI FT-UB juga menyampaikan berbagai strategi praktis untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat. Strategi tersebut meliputi pembagian waktu penggunaan perangkat berdasarkan zona kerja, zona istirahat, dan zona tidur. Peserta disarankan membatasi penggunaan media sosial sebelum tidur, mengurangi paparan notifikasi yang tidak mendesak, serta menyediakan waktu khusus tanpa perangkat digital untuk mendukung pemulihan fisik dan mental.

Materi lain yang diberikan mencakup pengelolaan emosi dan Fear of Missing Out atau FOMO. Peserta diajak memahami bahwa tidak seluruh pesan, informasi, atau aktivitas media sosial harus direspons secara langsung. Kemampuan menetapkan batas penggunaan teknologi menjadi bagian penting dalam menjaga konsentrasi, mengurangi tekanan psikologis, dan meningkatkan kualitas istirahat.

"Materi FOMO ini penting agar penggunaan teknologi dapat mengurangi tekanan psikologis," lanjutnya.
Peserta juga diarahkan untuk membangun pola komunikasi yang sehat dengan keluarga, teman, dan lingkungan kerja. Jadwal komunikasi yang teratur dapat membantu pekerja migran mempertahankan hubungan sosial tanpa mengganggu waktu kerja dan istirahat. Dengan pengaturan yang tepat, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana pendukung kesejahteraan, bukan sebagai sumber gangguan baru.

Pelaksanaan Program Dosen Berkarya 2026 ini sekaligus mendukung sejumlah sasaran Sustainable Development Goals atau SDGs secara terpadu. Edukasi mengenai kesehatan kerja, kesehatan mental, kualitas tidur, pencegahan kelelahan, dan pengelolaan penggunaan media digital memperkuat pencapaian SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Penyampaian materi berbasis ilmu pengetahuan yang praktis dan sesuai dengan kebutuhan komunitas Indonesia di luar negeri mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas. Penguatan pemahaman mengenai keselamatan kerja, ergonomi, pencegahan kesalahan, dan peningkatan produktivitas berkontribusi pada SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Pemberian akses edukasi kepada komunitas pekerja migran Indonesia turut mendukung SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, sedangkan pelaksanaan kegiatan lintas negara yang melibatkan Universitas Brawijaya, komunitas Indonesia di Taiwan, institusi pendidikan, organisasi masyarakat, dan mitra terkait memperkuat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan praktis kepada peserta, tetapi juga mendukung pembangunan masyarakat yang lebih sehat, terdidik, inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

Capaian program dapat dilihat dari meningkatnya pemahaman peserta mengenai risiko kerja dan risiko digital, kemampuan melakukan evaluasi mandiri, serta kesiapan menerapkan kebiasaan kerja yang lebih sehat. Program ini juga menghasilkan media edukasi praktis berupa peta risiko digital, checklist penggunaan media sosial, dan rekomendasi pengelolaan waktu digital yang dapat digunakan kembali oleh peserta dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Program Dosen Berkarya Universitas Brawijaya Tahun 2026, Departemen Teknik Industri FT-UB menegaskan perannya dalam menghadirkan solusi berbasis keilmuan bagi masyarakat. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung kesejahteraan pekerja migran Indonesia, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta mendorong pemanfaatan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.

Program ini diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan. Komunitas Indonesia di Taiwan diharapkan mampu menerapkan prinsip keselamatan kerja, ergonomi, dan kesehatan digital dalam kehidupan sehari-hari sehingga dapat tercipta lingkungan kerja yang lebih aman, sehat, inklusif, dan produktif. (sid/aw)