Kisah Anjani, Siswi 15 Tahun di Surabaya Rela Bekerja Demi Biayai Ibu dan Tetap Bertahan Sekolah
Jatimku.com, Surabaya – Di usia yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain bersama teman sebaya, Anjani Fenny Aru Selvia (15) justru harus memikul tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga. Siswi kelas IX MTs Plus Himmatun Ayat Surabaya itu rela bekerja setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup bersama ibunya yang sedang sakit.
Dilansir dari Kompas.com, Anjani hanya tinggal berdua dengan sang ibu setelah ayahnya meninggal dunia pada tahun 2022. Kondisi ekonomi keluarga membuatnya nyaris putus sekolah karena sempat merasa harus memilih antara melanjutkan pendidikan atau bekerja untuk mencari nafkah.
Sejak masih duduk di bangku kelas III sekolah dasar, Anjani sudah mulai membantu mencari penghasilan dengan bekerja di warung penyetan milik tetangganya. Keputusan itu diambil atas inisiatifnya sendiri demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
"Saya bilang ke tetangga saya, 'Bu boleh enggak saya bantu jualan? Enggak apa saya dibayar berapa saja'," ujar Anjani, dikutip dari Kompas.com, Kamis (9/7/2026).
Kini, rutinitas Anjani terbilang padat. Setiap hari ia bersekolah mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WIB. Setelah itu, ia kembali bekerja menjaga warung mulai pukul 16.30 hingga sekitar pukul 23.00 WIB.
Dari pekerjaannya tersebut, Anjani memperoleh penghasilan sekitar Rp100.000 per hari. Uang itu digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, seperti beras dan lauk-pauk, sekaligus membantu biaya pengobatan ibunya.
Kesibukan bekerja membuat waktu belajarnya sangat terbatas. Ia mengaku sering mengerjakan pekerjaan rumah di sela-sela menjaga warung. Saat menghadapi ujian sekolah, Anjani harus belajar hingga larut malam setelah pulang bekerja.
"Kalau sehari-hari jarang banget bisa ada waktu buat belajar. Kalau besoknya ada ujian sering kali begadang karena baru bisa belajar sepulang kerja," tuturnya.
Keterbatasan ekonomi juga membuat Anjani tidak pernah leluasa membeli buku bacaan atau mengikuti bimbingan belajar seperti teman-temannya.
"Uang buat makan sehari-hari saja harus ngirit banget, apalagi beli buku," katanya.
Meski demikian, Anjani merasa bersyukur karena sekolahnya memberikan bantuan berupa seragam, buku pelajaran, dan perlengkapan belajar secara gratis. Fasilitas tersebut sangat membantunya untuk tetap bisa mengenyam pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi.
Ia mengaku hanya mengandalkan buku yang dipinjamkan sekolah untuk belajar menghadapi ujian.
"Kadang ingin juga bisa merasakan beli buku sendiri atau ikut bimbingan belajar seperti teman-teman," ungkapnya.
Kisah Anjani menjadi potret perjuangan seorang pelajar yang tetap berusaha mempertahankan cita-citanya di tengah himpitan ekonomi. Semangatnya untuk terus bersekolah sembari membantu keluarga menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk terus berjuang meraih masa depan.
Sumber: Dilansir dari Kompas.com.
