Berawal Modal Rp200 Ribu, Lulusan SMK di Magetan Sukses Bangun Kebun Hidroponik 1.400 Lubang Tanam
JATIMKU.COM – Kisah inspiratif datang dari Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berbekal modal awal hanya Rp200.000 dan ilmu yang dipelajari secara mandiri melalui media sosial, seorang lulusan SMK berhasil mengembangkan usaha pertanian hidroponik hingga memiliki 1.400 lubang tanam yang kini memasok sayuran ke sejumlah restoran.
Dilansir dari Kompas.com, Rudy Saputra, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, mengawali usahanya dari rasa penasaran setelah melihat unggahan tentang hidroponik di Facebook.
Lulusan SMK Teknik Pemesinan itu mengaku tertarik karena sistem hidroponik dinilai lebih bersih dan modern dibandingkan pertanian konvensional.
"Awalnya saya lihat di Facebook ada yang membahas hidroponik. Kok kelihatannya menarik, bersih, dan saya berpikir petani sekarang tidak harus selalu berlumur lumpur. Dari situ saya ingin mencoba," ujar Rudy saat ditemui di kebun hidroponiknya, Rabu (15/7/2026).
Belajar Bertani dari Facebook dan YouTube
Setelah lulus dari SMK pada 2017, Rudy sebenarnya tidak memiliki latar belakang di bidang pertanian. Namun, rasa ingin tahu membuatnya belajar secara otodidak melalui komunitas Facebook dan berbagai video edukasi di YouTube.
Dengan modal Rp200.000, ia membeli tiga batang paralon bekas, pompa akuarium, dan tandon nutrisi sederhana untuk membangun instalasi hidroponik pertamanya di halaman rumah.
Pada tahap awal, hasil panennya belum dijual ke pasaran. Sayuran yang ditanam hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi keluarga sambil mempelajari teknik budidaya hidroponik.
"Waktu awal tidak saya jual. Saya tanam kangkung dan sayuran untuk konsumsi sendiri. Saya belajar dulu bagaimana cara menanam," katanya.
Sempat Gagal Berbulan-bulan
Perjalanan Rudy membangun usaha hidroponik tidak selalu berjalan mulus. Selama beberapa bulan pertama, ia harus menghadapi kegagalan karena benih yang ditanam berkali-kali tidak tumbuh dengan baik.
Dilansir dari Kompas.com, Rudy kemudian mengetahui penyebabnya setelah bergabung dengan komunitas hidroponik. Ternyata benih yang digunakan sebelumnya merupakan varietas yang lebih cocok ditanam di lahan tanah, bukan dengan sistem hidroponik.
"Yang paling sulit justru menentukan benih. Saya sempat mencoba beberapa jenis, tetapi tidak cocok. Akhirnya saya dapat rekomendasi dari teman-teman komunitas menggunakan varietas Caipira. Alhamdulillah hasilnya bagus sampai sekarang," ujarnya.
Ia mengaku sempat mengalami kegagalan selama sekitar tiga bulan akibat penggunaan benih yang kurang sesuai.
"Tiga bulan gagal total, banyak benih tidak tumbuh karena ternyata untuk sistem hidroponik itu benihnya ada sendiri, bukan untuk selada yang ditanam di tanah," ungkap Rudy.
Kini Miliki 1.400 Lubang Tanam
Dari pengalaman tersebut, Rudy menyadari bahwa bertani hidroponik membutuhkan ketelitian dalam memilih benih, mengatur nutrisi, hingga menyesuaikan dengan kondisi lingkungan.
Berkat ketekunan dan kemauan untuk terus belajar, usaha hidroponiknya kini berkembang pesat. Instalasi yang awalnya hanya terdiri dari beberapa pipa sederhana telah berkembang menjadi sekitar 1.400 lubang tanam yang menghasilkan berbagai jenis sayuran segar.
Hasil panen tersebut kini dipasarkan ke sejumlah restoran dan pelanggan yang membutuhkan sayuran hidroponik berkualitas.
Kisah Rudy menjadi bukti bahwa keterbatasan modal bukan menjadi penghalang untuk memulai usaha. Dengan kemauan belajar, memanfaatkan informasi dari media digital, dan tidak mudah menyerah saat menghadapi kegagalan, peluang usaha dapat berkembang menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
