Semangat Berteknologi Mencontoh China dan Iran dengan Tetap Berpancasila

Table of Contents

Jatimku-Malang, di tengah derasnya arus globalisasi dan akselerasi revolusi Teknologi, dunia kini memasuki babak baru yang sering disebut sebagai era Kompetisi Teknologi Global. Negara-negara besar berlomba membangun kemandirian teknologi sebagai bentuk kedaulatan negaranya. Dalam konteks ini, Negeri Tirai Bambu, China dan Negeri Persia, Iran menjadi contoh yang sangat menarik: keduanya menunjukkan keberanian dalam mengembangkan teknologi secara mandiri, bahkan di tengah tekanan global.

Namun, bagi Indonesia, mengadopsi bukan berarti menyalin secara utuh. Kita membutuhkan pendekatan yang lebih bijak: meneladani semangatnya, tetapi tetap berakar pada ideologi dan budaya Pancasila.

Belajar dari China dan Iran: Kemandirian Teknologi adalah Kunci

China dikenal sebagai negara yang agresif dalam mengembangkan Teknologi, mulai dari AI, Robot Marathon, Telekomunikasi 5G, bioteknologi hingga industri chip. Sementara Iran, meskipun menghadapi berbagai sanksi internasional, tetap mampu membangun Teknologi strategis seperti drone, bioteknologi, energi hingga Teknologi pertahanan secara mandiri . Bahkan Iran juga aktif menawarkan kerja sama Teknologi dengan negara lain, termasuk Indonesia, sebagai bentuk ekspansi pengetahuan dan kemandirian Teknologi . Iran siap berkolaborasi dengan Indonesia untuk mengembangkan inovasi di bidang ketahanan energi dan ketahanan pangan.

Dari kedua negara tersebut, ada satu benang merah yang jelas:
Teknologi bukan sekadar alat, tetapi simbol kedaulatan dan kekuatan suatu bangsa.

Indonesia Emas 2045: Momentum atau Tantangan?

Indonesia saat ini sedang menuju visi besar Indonesia Emas 2045, di mana penguasaan Teknologi menjadi faktor penentu utama. Pemerintah sendiri telah menegaskan bahwa Teknologi seperti AI dan 5G akan menjadi akselerator utama transformasi digital nasional . Tidak hanya itu, pembangunan SDM digital juga menjadi prioritas, agar Indonesia tidak hanya menjadi *pengguna* teknologi, tetapi juga harus *produsen* inovasi global.

Namun, ada pertanyaan penting, Apakah kita bangsa Indonesia hanya akan menjadi “penonton”di tengah persaingan global, atau menjadi pemain utama?

Pancasila: Kompas Moral di Era Teknologi

Di sinilah Indonesia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak negara lain: Ideologi dan Budaya Pancasila. Pemerintah telah menegaskan bahwa pengembangan teknologi, termasuk AI, harus tetap berlandaskan nilai-nilai ideologi dan Budaya Pancasila agar tidak kehilangan identitas bangsa . Artinya: 
1. Teknologi harus berorientasi pada kemanusiaan (*_human-centered_*). 
2. Inovasi harus memperkuat persatuan, bukan perpecahan.
3. Digitalisasi harus menciptakan keadilan sosial, bukan ketimpangan.
Berbeda dengan pendekatan negara lain yang cenderung pragmatis atau bahkan militeristik, Bangsa Indonesia justru memiliki peluang untuk membangun Teknologi yang beretika dan berbudaya Pancasila

Sinergi Ideal: Teknologi Maju, Ideologi Kuat

Menghadapi tahun 2045, Indonesia membutuhkan kombinasi yang seimbang:
1. Mengadopsi semangat China: Fokus pada inovasi, Investasi besar di teknologi dan Kemandirian industri digital.
2. Meneladani ketahanan Iran: Tidak mudah bergantung pada pihak luar, Berani mengembangkan teknologi sendiri dan Membangun kedaulatan teknologi
3. Memegang teguh ideologi dan Budaya Pancasila: Menjadikan teknologi sebagai alat kesejahteraan, Menjaga nilai kemanusiaan dan keadilan serta Menghindari dehumanisasi akibat teknologi

Peran Generasi Muda: Penentu Masa Depan Bangsa

Generasi muda hari ini adalah aktor utama menuju Indonesia Emas 2045. Mereka bukan hanya pengguna Teknologi, tetapi *calon inovator*, *peneliti*, dan *pemimpin* masa depan. Yang dibutuhkan bukan sekadar kemampuan teknis, tetapi juga: Karakter kuat, Integritas moral dan Kesadaran ideologis.

Karena tanpa _value_, Teknologi bisa menjadi *_tool_* yang berbahaya. Namun dengan ideologi dan Budaya Pancasila, Teknologi justru menjadi sarana untuk membangun peradaban Bangsa.

Penutup: Menjadikan Indonesia yang Berdaulat dan Bermartabat

Indonesia tidak harus menjadi China, dan tidak perlu menjadi Iran. Indonesia harus menjadi *_self_* Indonesia, Negara yang: Maju dalam teknologi, Mandiri dalam inovasi, dan Kokoh dalam ideologi dan budaya Pancasila.

Menuju Indonesia Emas 2045, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana kita menguasai Teknologi, tetapi bagaimana kita tetap menjadi manusia yang beradab di tengah kecanggihan Teknologi. Teknologi tanpa *_value_* akan kehilangan arah, namun Pancasila tanpa inovasi akan tertinggal oleh zaman. Maka, saatnya generasi Indonesia melangkah: Maju dalam Teknologi, Kuat dalam Ideologi, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. 
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026.

* Oleh : Dr. Tibyani, S.T., M.T*
* Penulis adalah CEO Tetenger Bumi UB dan Member of Learning Technology Filkom UB
* Sidik / AW