Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri
Table of Contents
Jatimku, Salah satu hal yang sering diperbincangkan dan diperdebatkan dalam puisi adalah tentang estetika. Estetika berasal dari bahasa Yunani aisthetikos, yang berarti "keindahan, sensitivitas, kesadaran, berkaitan dengan persepsi sensorik, yang mana merupakan turunan dari aisthanomai, yang berarti "saya melihat, meraba, merasakan. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Dalam perkembangan sastra terjadi kontestasi-kontestasi simbolik untuk menentukan puisi yang memenuhi nilai estetika, dan menurut Bourdieu yang menentukan adalah para agen sastra ( sastrawan yang telah terlegitimasi), media massa, penerbit, dan lembaga-lembaga pemberi legitimasi yang sering mengadakan lomba-lomba penulisan puisi, baik lembaga pemerintah maupun non pemerintah.
Setelah terjadi kontestasi simbolik ini, dapat kita lihat bahwa pemenangnya menjadikan sebuah kuasa simbolik bahwa estetika itu universal, keindahan yang berlaku untuk semua. Padahal, menurut Arief Budiman, estetika itu sangat tergantung pada konteks ruang dan waktu. Dan menurut saya pernyataan Arief Budiman ini benar; suatu estetika puisi di sebuah daerah yang kental dengan tradisi Melayu, dengan gaya bahasa arkaik Melayu, belum tentu juga bisa dirasakan keindahannya oleh mereka yang berasal dari kebudayaan Jawa.
Dalam diskursus sastra yang seperti inilah penyair Emi Suyanti berkarya. Penyair asal Magetan dan sekarang tinggal di Jakarta ini mengumpulkan puisi-puisinya yang tersebar di media massa dalam Antologi "Perempuan mesti bisa menjahit, setidaknya menjahit lukanya sendiri".
Buku kumpulan puisi Emi Suyanti yang menyingkat namanya jadi Emi Suy ini menarik untuk kita baca dan kita renungkan. Puisi baginya menjadi ekspresi dari bagaimana dia mengungkapkan pengalaman batin yang telah dilaluinya. Apa yang diungkapkannya dalam puisi tidak sekedar menuliskan pengetahuan-pengetahuan yang dimilikinya dalam memperoleh pengalaman batin tersebut, tapi juga historisitas yang ada di peristiwa hidupnya.
Emi mencoba mengungkapkan pengalaman-pengalaman batinnya dalam puisi-puisinya dengan berbagai emosi, imajinasi, ide, irama, ironi dan metafora. Hingga diksinya bisa bertransformasi dari makna konseptual menjadi makna imajinatif di benak pembaca, Seperti puisi berjudul Belajar Melupakan ( hal 38 ) :
Di tanah masa silam
Kenangan ditanam dalam-dalam
Agar yang tumbuh hanya masa depan
Meski kelak tertulis di batu nisan
Sebuah pengalaman hidup jika ditulis dengan gaya penulisan yang liris, diksi sederhana, dan jika disusun dalam kalimat secara tepat itu bisa menyampaikan isi puisi tersebut ke pembaca dan menjadikan seolah menjadi pengalaman bersama yang dialami antara penulis dan pembaca. Hal ini menjadikan puisi menjadi narasi yang otentik. Dalam hal ini Emi mengerti betul dan telah menjadi habitus dalam kepenulisannya. Habitus menurut Pierre Bourdieu adalah nilai-nilai yang dihayati oleh manusia, dan tercipta melalui proses sosialisasi nilai-nilai yang berlangsung lama sehingga mengendap menjadi cara berpikir dan pola perilaku yang menetap di dalam diri manusia, termasuk dalam cara menulis.
Seperti dalam puisi "Mudik" ( hal 53 )
Dari tahun ke tahun
Kampung kelahiran menabuhku bertalun
Dari takbir ke takbir
Nasib begitu getir
Ibu, aku hanya punya debar
Apa kau masih punya debur?
Setiap senti jalan yang dilalui mereka
Akan menderapkan rindu kepadamu
Dan pada puisinya yang berjudul "Menyimak Semesta" ( hal 74 )
Aku melihat sungai di depanku
Namun kakiku tak ikut mengalir
Sampah-sampah memenuhi tubuhnya
Merampas bening
Dan aku tak bisa berkaca
Pada jernihnya
.....................................
Sebuah puisi tentang kerusakan ekologi, sebuah puisi kritik sosial tentang lingkungan.
Puisi sebagai sebuah bagian dari seni tentunya juga tunduk pada sebuah hakikat karya seni, yaitu selalu terjadi keregangan antara Konvensi dan pembaharuan (inovasi). Itulah kenapa Rifaterre mengatakan Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya. Hingga sah-sah saja kalau Emi Suy menulis puisi-puisinya sesuai dengan konsep estetik yang diyakininya. Salah satunya adalah yang dituliskannya dengan metafora dan ironi pada puisi "Alarm Kecil di Hutan Mangrove" ( Halaman 80 ) :
Lepas dipeluk gigil pagi di pantai indah kapuk
Kita bertukar lambaian dan peluk
Hingga hari mengelupas dari cangkang
Hutan alam mangrove maka pagiku tak lagi abu
Sebab ada renyah tawa yang kutuju
.................................
Di sana yang kita temui sepanjang setapak
Hutan mangrove eksotis alarm meninggalkan ayat
Ayat meninggalkan api
Apinya nyala kecil di dalam ruang kesadaran
Salah satu pengalaman batin yang berhubungan dengan hati adalah jendela untuk melihat Tuhan, dituliskannya dalam puisi berjudul "Musim Ziarah" ( Halaman 88 )
Makam-makam menyediakan liang
Setia menunggu siapa-siapa yang akan berpulang
Doa-doa menggema
Dikirim dari orang-orang yang menolak lupa
Setiap kali ziarah
Ada yang menatap lekat batu nisan
Kelak ada yang tak mampu kita lakukan
Mengukir nama di atas pusara sendiri
Puisi profetik sufistik yang mempunyai nilai-nilai religiusitas, sebuah hubungan dengan Sang Maha Pencipta adalah keintiman yang syahdu, seperti istilah filsuf Rudolf Otto sebagai Mysterium Tremendum et Fascinosum: Dia adalah kegaiban unik yang menautkan kejut-getir dan rindu yang menyengat. Misteri yang menggetarkan sekaligus memesona.
Sebagai seorang yang sering melakukan perjalanan Emi juga banyak mengabadikan kisah perjalanannya dan tempat-tempat yang pernah disinggahinya, tentu saja sebagai penulis yang tumbuh di era kemenangan estetika humanisne universal, cara menuliskannya pun dengan gaya metafora humanisme universal, dengan memasukkan nilai-nilai historisitas, seperti dalam puisinya "Onrust Pulau Yang Tak Pernah Tidur" ( halaman 146 )
Kita berjalan menyusuri pulau Onrust
Dengan tubuh dan mata menyala
Menatap bongkahan sepi berhambur
Ke sisa-sisa reruntuhan kenangan
Bersama membilang detak dermaga
Orang-orang menarik dan mencari
Jejak galangan kapal VOC
Saksi sejarah lingkaran sengketa
Banten dan Jayakarta
Saat Belanda menjarah kayu
Untuk dibuat kapal
Ingatanku berlayar
.............................
Maka, biarlah di pulau puisi ini
Aku menjadi perahu yang menunggu
Tanpa pernah berlabuh di mana pun
Dirikam aroma rempah-rempah dari segala arah
Aku hanya bisa meneguk asin air mata sejarah!. (sid/aw)
.............................
Resensi Buku: Perempuan Mesti Bisa Menjahit, Setidaknya Menjahit Lukanya Sendiri
Oleh : Arif Gumantia - Ketua Majelis Sastra Madiun
Judul buku : Perempuan mesti bisa menjahit setidaknya menjahit lukanya sendiri
( Antologi puisi media massa 2022-2025 )
Penulis : Emi Suy
Halaman : 198 Halaman
Cetakan : Pertama, Juli 2025
Penerbit : Taresia
Jl. Kayu Manis 4/14 Matraman Jakarta Timur
0811198673