Asal-usul Hari Peduli Autisme Sedunia Gejala dan Penanganan Autisme yang Perlu Diketahui
Jatimku.com – Setiap 2 April, dunia memperingati Hari Peduli Autisme Sedunia atau World Autism Awareness Day (WAAD). Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 18 Desember 2007 melalui resolusi A/RES/62/139. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran global mengenai autisme serta mendorong upaya inklusif agar penyandang autisme dapat hidup dengan lebih bermakna dan setara dalam masyarakat.
Asal-usul Penetapan WAAD
Istilah autisme pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Eugen Bleuler pada tahun 1911. Kemudian pada 1943, Dr. Leo Kanner memperjelas autisme sebagai gangguan perkembangan sosial dan emosional pada anak. Perkembangan pemahaman ini menjadikan autisme diakui sebagai bagian dari spektrum gangguan perkembangan saraf.
Melihat masih rendahnya pemahaman publik dan tingginya diskriminasi terhadap penyandang autisme, PBB menegaskan kembali perlindungan hak-hak penyandang disabilitas melalui Konvensi Hak Penyandang Disabilitas pada 2006. Setahun kemudian, WAAD resmi ditetapkan dan diperingati sejak 2008 dengan tema yang berbeda tiap tahun. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Advancing Neurodiversity and the UN SDGs”, yang menekankan pentingnya kebijakan inklusif bagi penyandang autisme.
Gejala Autisme pada Anak
Menurut DSM-5, beberapa tanda autisme pada anak meliputi:
- Kesulitan kontak mata dan respons terhadap nama
- Keterlambatan bicara, echolalia, atau penggunaan bahasa yang tidak biasa
- Kesulitan memahami ekspresi wajah dan isyarat nonverbal
- Perilaku berulang, rutinitas kaku, serta minat sangat spesifik
- Sensitivitas tinggi terhadap cahaya, suara, atau tekstur makanan
Gejala Autisme pada Dewasa
Pada orang dewasa, gejalanya dapat berupa kesulitan memahami bahasa tubuh, rutinitas yang sangat kaku, reaksi emosional yang intens terhadap perubahan, serta fokus mendalam pada satu topik tertentu.
Penanganan dan Dukungan
Penanganan autisme dapat mencakup terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi, dukungan psikologis, serta manajemen kondisi medis terkait. Kelompok pendukung dan pekerja sosial juga berperan penting dalam memperkuat kesejahteraan penyandang autisme.
Melalui peringatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya lingkungan yang inklusif, ramah, dan bebas stigma bagi individu dengan spektrum autisme.
