Viral Siswa SD di NTT Meninggal Imbas Tak Mampu Beli Buku, Pakar UGM Sorot Dana MBG
Siswa kelas 4 SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan meninggal dunia diduga akibat bunuh diri setelah tidak mampu membeli buku dan pulpen untuk kebutuhan sekolah. Peristiwa ini memicu duka dan keprihatinan luas, terutama di dunia pendidikan Indonesia.
Pakar pendidikan Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Agus Sartono, menyatakan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa pendidikan dasar merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota sesuai aturan, sehingga kasus seperti ini seharusnya bisa dicegah melalui pendataan siswa kurang mampu dan bantuan sosial pendidikan.
Menurutnya, anak-anak dari keluarga tidak mampu seharusnya mendapat bantuan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan program sosial lain. Ia juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi yang menegaskan pentingnya penyelenggaraan pendidikan gratis 12 tahun.
Prof. Agus turut menyoroti implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menilai program tersebut baik, tetapi alokasi anggaran perlu lebih realistis. Misalnya saat libur sekolah, dana MBG bisa dialihkan untuk membantu siswa yang kesulitan membeli kebutuhan pendidikan. Bahkan, menurutnya, dana yang dihemat dari program itu seharusnya cukup untuk mencegah kasus ekstrem seperti ini.
Dari sisi kesehatan mental, spesialis jiwa dr. Lahargo Kembaren menjelaskan bahwa anak usia 9–10 tahun belum memahami sepenuhnya konsep kematian. Anak yang menghadapi tekanan berat sering kali tidak benar-benar ingin mati, tetapi tidak tahu cara mengatasi beban yang dirasakan. Tekanan ekonomi keluarga juga dapat membuat anak merasa bersalah dan memikul stres orang tua.
Kasus ini menjadi sorotan karena memperlihatkan kombinasi persoalan ekonomi, akses pendidikan, serta kesehatan mental anak. Banyak pihak menilai sistem perlindungan sosial dan pendidikan harus lebih cepat menjangkau siswa yang membutuhkan agar kejadian serupa tidak terulang.