Penemuan 2 Jenazah Saat Pengangkatan Bangkai KMP Tunu Pratama Jaya
BANYUWANGI, JAWA TIMUR – Proses pengangkatan bangkai KMP Tunu Pratama Jaya yang tenggelam di perairan Selat Bali kembali menemukan dua jenazah korban. Temuan ini terjadi pada hari pertama tim melakukan penyisiran bagian dalam bangkai kapal, Senin (2/2/2026).
Kapal motor penumpang itu sebelumnya tenggelam pada 2 Juli 2025, dan pengangkatan bangkai kapal dilakukan sebagai bagian dari upaya pencarian korban yang belum ditemukan selama berbulan-bulan.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Tanjungwangi Banyuwangi, Purgana, mengatakan bahwa jika jenazah ditemukan saat pengangkatan bangkai kapal, mereka akan diperlakukan sesuai prosedur dan dimakamkan secara layak. Hal ini telah menjadi bagian dari koordinasi antara instansi terkait dan keluarga korban.
“Saat proses pengangkatan bangkai kapal, bila terdapat jenazah, kami akan memperlakukannya sebagaimana mestinya,” ujar Purgana.
Dari dua jenazah yang ditemukan, satu telah teridentifikasi bernama I Wayan Teja Setiawan (33), warga Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Ia diketahui merupakan Anak Buah Kapal (ABK) yang bertugas saat kapal berlayar. Jenazah ini segera dibawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi untuk penanganan lebih lanjut oleh tim identifikasi.
Sedangkan jenazah kedua ditemukan saat tim menggunakan robot bawah air untuk melepas bagian bangkai kapal di lokasi pengangkatan dengan alat berat di tongkang. Jenazah ini belum dapat dikenali karena hanya tersisa bagian tubuhnya, sehingga dibawa ke RSUD Negara, Bali untuk proses identifikasi lanjutan di RSUD Blambangan sesuai data manifest dan informasi korban.
Keluarga korban sebelumnya sempat menyatakan keprihatinan karena kurangnya informasi perkembangan proses pengangkatan bangkai kapal kepada mereka. Perwakilan keluarga bahkan menyebut tidak menerima update berupa foto atau video selama proses berlangsung.
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya sendiri merupakan salah satu musibah laut besar yang terjadi di perairan Selat Bali. Kapal tersebut tenggelam pada Juli 2025 setelah mengalami kecelakaan dalam pelayaran dari Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) menuju Pelabuhan Gilimanuk (Bali). Puluhan orang dilaporkan selamat, sementara sejumlah lainnya menjadi korban meninggal dunia atau hilang.
Pengangkatan bangkai kapal dan evakuasi korban dilakukan sebagai bagian dari upaya pihak berwenang untuk menutup proses pencarian secara menyeluruh dan memberikan kepastian kepada keluarga yang masih menantikan berita tentang sanak keluarga mereka.