HARI KETIGA CCG SULAWESI SELATAN: Spiritualitas, Konsolidasi 300 Peserta CMBC, dan Penguatan Indonesia Timur di Malino
Makassar – Malino, 6 Februari 2026, Hari ketiga rangkaian City to City Grounded (CCG) Sulawesi Selatan menghadirkan kombinasi unik antara spiritualitas, konsolidasi jaringan, dan penguatan kapasitas kepemimpinan bisnis. Sejak pagi, rombongan G-Coach bersama Coach Dr. Fahmi bergerak menuju Sekolah Al-Biruni Cabang Karunrung.
Di lokasi tersebut, rombongan disambut langsung oleh Founder Al-Biruni, Coach H. Arafah. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan refleksi bagaimana pendidikan dapat menjadi fondasi gerakan ekonomi berkelanjutan. Coach Fahmi menegaskan bahwa sekolah bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi tempat membangun karakter pemimpin masa depan.
Setelah sesi makan siang bersama, rombongan melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Cheng Hoo,Tun Abdurrazak Makassar. Momentum Jumat kali ini terasa berbeda karena khatib merupakan salah satu G-Coach. Dalam khutbahnya, ia mengutip banyak referensi kepemimpinan dan spiritualitas yang selama ini menjadi inti ajaran Coach Fahmi.
Usai sholat, rombongan bergerak menuju Malino menggunakan bus pariwisata yang telah disiapkan panitia. Perjalanan selama dua jam menjadi ruang bonding yang hangat. Mikrofon bergilir dari satu peserta ke peserta lain, berbagi cerita perjuangan bisnis, tantangan keluarga, dan visi membangun Indonesia Timur.
Pukul 15.00 WITA, rombongan tiba di Villa Karaeng Sawi’ untuk agenda utama: sesi CMBC (Certified Master Business Coaching) yang dihadiri sekitar 300 peserta. Meski sempat terkendala akses jalan yang curam sehingga bus tidak dapat langsung masuk ke lokasi, panitia bergerak cepat dengan menyiapkan empat armada mobil untuk mengantar peserta hingga tiba di venue.
Di hadapan ratusan peserta CMBC, Coach Fahmi menyampaikan materi kepemimpinan dan transformasi bisnis yang menggugah. Ia menekankan pentingnya membangun fondasi spiritual sebagai “sabuk pengaman” dalam perjalanan bisnis, konsep yang ia sebut sebagai Spiritual Belt. Menurutnya, semakin tinggi pertumbuhan usaha seseorang, semakin kuat pula fondasi nilai yang harus dimiliki.
“Bisnis tanpa spiritualitas akan rapuh ketika diuji. Tapi bisnis yang berakar pada nilai akan tetap berdiri meski diterpa badai,” tegasnya.
Sesi berlangsung intens, penuh interaksi, dan ditutup dengan perkenalan antar peserta dari berbagai daerah Indonesia Timur. Energi kebersamaan terasa begitu kuat. Banyak peserta yang mengungkapkan bahwa pertemuan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana bisnis, iman, dan dampak sosial dapat berjalan beriringan.

