Ustadz Taufiq Kupas Strategi Perang Badar di Masjid Syuhada Singosari
Table of Contents
Jatimku.com, Malang — Ustadz Muhammad Taufiq, Lc., M.Pd.I., mengisi kajian Sirah Nabawiyah bertema “Perang Badar Kubro (Bagian 2)” di Masjid Syuhada, Jalan Karanglo Indah, Bodosari, Tanjungtirto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Ahad (11/1/2026). Kajian yang dimulai ba’da Subuh hingga waktu syuruq tersebut diikuti jamaah dengan penuh kekhusyukan.
Dalam pemaparannya, Ustadz Taufiq menjelaskan bahwa Perang Badar merupakan perang pertama umat Islam yang terjadi pada 17 Ramadhan tahun 2 Hijriah, dengan jarak sekitar 155 kilometer dari Madinah. Rasulullah SAW tidak hanya memimpin secara spiritual, tetapi juga menyiapkan strategi perang yang matang, termasuk mendirikan pos komando dan tenda sebagai pusat kendali.
Salah satu bagian penting yang dikupas adalah dialog Rasulullah SAW dengan Hubab bin Mundzir terkait pemilihan lokasi perang. Hubab mengusulkan agar pasukan Muslim berpindah ke lokasi yang memiliki sumber air agar dapat menguasai logistik dan melemahkan musuh. “Perang adalah siasat,” tegas Ustadz Taufiq menukil jawaban Rasulullah SAW yang menerima usulan tersebut.
Pada malam menjelang Perang Badar, Rasulullah SAW bermunajat dengan sungguh-sungguh memohon pertolongan Allah SWT. Kaum Muslimin kemudian dianugerahi rasa aman berupa kantuk dan hujan, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anfal ayat 11, yang menjadi tanda ketenangan dan pertolongan dari Allah SWT.
Ustadz Taufiq juga menuturkan turunnya 1.000 malaikat yang dipimpin oleh Malaikat Jibril sebagai bala bantuan, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Anfal ayat 9. Perang Badar pun diawali dengan al-mubarazah, duel satu lawan satu, yang berujung pada kemenangan pihak Muslim.
Bagian yang paling menyentuh perhatian jamaah adalah kisah tewasnya Abu Jahal, tokoh Quraisy yang sangat memusuhi Rasulullah SAW. Ustadz Taufiq menjelaskan bahwa Abu Jahal justru terbunuh di tangan dua pemuda Anshar yang belum genap berusia 15 tahun, yakni Mu’adz bin Amir Al-Jumah dan Mu’awwadz bin Afra’. Keduanya sebelumnya bahkan harus membuktikan kelayakan ikut perang dengan bergulat di hadapan Rasulullah SAW.
“Ini pelajaran besar bahwa pertolongan Allah bisa datang melalui siapa saja, bahkan dari pemuda yang secara usia masih sangat muda, namun memiliki iman dan keberanian luar biasa,” ungkap Ustadz Taufiq.
Kajian ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan ramah tamah jamaah berupa sarapan pecel Madiun selepas syuruq. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar dakwah dan penguatan iman yang rutin didukung oleh SAHDHU (Sahabat Dhuafa) Foundation.