Efisiensi Anggaran 2026, Disporapar Kota Malang Fokus Pertahankan Layanan Dasar

Table of Contents


MALANG | JATIMKU
 – Kebijakan efisiensi anggaran pada tahun 2026 membuat Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang harus memutar strategi. Alih-alih menjalankan proyek fisik berskala besar, Disporapar memilih memprioritaskan keberlangsungan layanan dasar di sektor olahraga, kepemudaan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.


Kepala Disporapar Kota Malang, Baihaqi, menegaskan bahwa pada 2026 tidak terdapat paket pekerjaan fisik besar seperti renovasi maupun pembangunan fasilitas olahraga. Kebijakan tersebut diambil sebagai respons atas efisiensi belanja daerah.

“Prioritas kami di 2026 adalah menjaga layanan fasilitasi olahraga, kepemudaan, dan ekonomi kreatif. Tidak ada paket perbaikan konstruksi besar. Kami fokus pada pemeliharaan ringan, seperti menjaga kebersihan stadion dan lapangan olahraga,” ujar Baihaqi.


Ia menjelaskan, perbandingan anggaran 2026 dengan tahun sebelumnya tidak bisa dilakukan secara langsung. Pasalnya, pada 2025 Kota Malang menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur yang menyerap anggaran cukup besar.

“Kalau dibandingkan dengan 2025 tidak apple to apple. Tahun lalu ada Porprov dengan kebutuhan anggaran besar. Tahun 2026 ini sudah tidak ada lagi pemeliharaan besar, tinggal menjaga kebersihannya saja,” jelasnya.


Meski tanpa proyek renovasi besar, Disporapar memastikan fasilitas olahraga tetap layak digunakan. Baihaqi mencontohkan GOR Ken Arok yang dijadwalkan menjadi salah satu venue Proliga pada Februari 2026.

“Kemarin saya cek langsung, ada bagian atap yang bocor. Itu kami perbaiki agar saat digunakan, terutama ketika hujan, tidak menimbulkan masalah,” tambahnya.


Di sektor pariwisata, Disporapar juga menerapkan strategi serupa. Mengingat mayoritas destinasi wisata di Kota Malang dikelola oleh pihak swasta dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), fokus diarahkan pada pembinaan dan penguatan tata kelola.

“Kami terus melakukan pembinaan terhadap pengelola destinasi wisata, khususnya Pokdarwis, agar pelayanan kepada wisatawan tetap optimal,” kata Baihaqi.


Selain itu, Disporapar juga memperkuat kampung tematik yang telah berkembang serta mendampingi kampung wisata yang masih dalam tahap pertumbuhan. Salah satunya Kampung Wonokoyo yang dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi destinasi wisata baru.

“Yang sudah eksis kita kuatkan, yang masih tumbuh kita dampingi. Di Wonokoyo misalnya, Pokdarwisnya sangat antusias. Kita dampingi agar minimal bisa menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Malang,” ungkapnya.


Terkait program 1.000 event, Baihaqi menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Peran Disporapar lebih pada fasilitasi, pembinaan, serta dukungan perizinan dan rekomendasi.

“Seribu event itu tidak harus semuanya dari APBD. Selama ada kegiatan masyarakat yang berkoordinasi dengan kami, akan kami fasilitasi dari sisi pembinaan, perizinan, dan rekomendasinya,” pungkasnya.