Insiden Kebakaran Terra Drone Ungkap Lemahnya Sistem Keamanan Gedung Ibu Kota
Jatimku.com – Kebakaran gedung Terra Drone di Jakarta Pusat yang menewaskan 22 orang pada Selasa (9/12) kembali membuka mata publik terhadap lemahnya sistem keamanan gedung di ibu kota. Para pakar menilai insiden tersebut seharusnya menjadi peringatan keras agar seluruh bangunan bertingkat segera dievaluasi, khususnya terkait jalur evakuasi dan sistem proteksi kebakaran.
Api diduga muncul dari lantai 1 gedung dan asap pekat segera merambat naik hingga enam lantai di atasnya. Banyak korban tidak sempat menyelamatkan diri karena terjebak asap, bahkan beberapa harus melarikan diri ke atap untuk menunggu evakuasi darurat. Sebagian besar korban meninggal akibat kehabisan oksigen.
Mendagri Tito Karnavian, yang meninjau lokasi sehari setelah kejadian, menegaskan bahwa gedung tersebut tidak memiliki jalur evakuasi yang layak. Ia juga menyoroti potensi ketiadaan sprinkler dan perangkat pemadam internal. “Kebakaran terjadi di lantai 1 tanpa jalur evakuasi. Belum jelas juga apakah ada sprinkler di sana,” ujar Tito, dikutip dari TVOne.
Pakar: Banyak Gedung Tidak Memiliki Jalur Evakuasi Berfungsi
Nirwono Joga, ahli tata kota dari Universitas Trisakti, menilai insiden ini seharusnya menjadi momentum Pemprov DKI untuk melakukan audit menyeluruh pada gedung-gedung bertingkat. Menurutnya, banyak gedung pusat perdagangan maupun perkantoran tidak memiliki jalur evakuasi memadai.
“Kalau pun ada, sering kali digunakan sebagai tempat penyimpanan barang atau bahkan gudang,” ujarnya. Nirwono juga menambahkan bahwa simulasi tanggap kebakaran jarang dilakukan, sehingga penghuni bangunan tidak siap ketika insiden terjadi.
Yayat Supriatna, dosen perencanaan wilayah dan kota Universitas Trisakti, mengingatkan bahwa pemerintah sebenarnya sudah memiliki aturan teknis melalui Permen PUPR Nomor 26/PRT/M/2008. Aturan tersebut mengatur alarm kebakaran, detektor asap, sprinkler, hidran, hingga tata jalur evakuasi. Namun, implementasinya masih jauh dari ideal.
“Dari berbagai kasus kebakaran di Jakarta, jalur evakuasi lah yang paling sering absen,” tegasnya.
Struktur Bangunan Hingga Ventilasi Dianggap Bermasalah
Yayat juga menyebut banyak gedung di Jakarta yang menggunakan material bangunan kurang tahan api atau sepenuhnya tertutup kaca tanpa jendela darurat. Desain semacam ini membuat asap tidak memiliki jalan keluar ketika terjadi kebakaran, sehingga risiko korban meningkat.
Celah Setelah PBG dan SLF Terbit
Mendagri Tito mengakui adanya celah pengawasan setelah gedung memperoleh Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF). Tidak ada aturan yang mewajibkan inspeksi rutin tahunan, sehingga kondisi keamanan gedung sering kali tidak lagi sesuai standar awal.
Nirwono menambahkan bahwa meskipun gambar rancang bangun sesuai, pemilik gedung kerap mengubah fungsi ruang atau memotong anggaran keamanan sehingga tidak lagi sesuai standar.
Risiko Baterai dan Fungsi Ruang Perlu Perhatian Khusus
Kebakaran Terra Drone dipicu oleh baterai-baterai drone yang terbakar di lantai dasar, yang merupakan material berisiko tinggi. Menurut Nirwono, banyak perusahaan atau toko yang menyimpan baterai litium tanpa prosedur pemadaman khusus, padahal cara memadamkan baterai berbeda dengan api biasa.
Yayat menegaskan bahwa fungsi bangunan juga harus diperjelas. Jika sebuah bangunan digunakan sekaligus untuk kantor dan gudang bahan sensitif, maka risiko kebakaran meningkat dan seharusnya disesuaikan dalam penilaian SLF.
Pemerintah Diminta Bertindak Cepat
Para pakar sepakat bahwa audit gedung, pemisahan fungsi bangunan, peningkatan standar proteksi kebakaran, serta edukasi penghuni gedung perlu segera dilakukan. Insiden Terra Drone seharusnya menjadi pengingat bahwa keselamatan publik harus menjadi prioritas.